Di Luar Negeri, TKI Legal Pun Tidak Pernah Lepas dari Masalah

13 07 2008

 

Di Luar Negeri, TKI Legal Pun Tidak Pernah Lepas dari Masalah

 

ANGGAPAN berstatus tenaga kerja Indonesia legal di luar negeri pasti aman dan bebas dari berbagai persoalan, ternyata cuma cerita isapan jempol. Masuk dan bekerja sesuai prosedur di sebuah negara lain, seperti Singapura, tak lantas secara otomatis semua hak dan kewajiban seluruhnya akan diperoleh sesuai hukum yang berlaku di negara tersebut.

DENGAN status sebagai pembantu rumah tangga (PRT), tenaga kerja Indonesia (TKI) rata-rata menerima gaji 230 dollar Singapura atau setara dengan Rp 1.150.000 per bulan. Adapun tenaga kerja asing (TKA) Filipina dengan alasan lebih berkualitas dan mahir berbahasa Inggris bisa menikmati gaji 350 dollar Singapura atau Rp 1.750.000. TKI pun cenderung tidak seberuntung rekannya dari negeri Gloria Macapagal-Arroyo itu.

Majikan tidak berani berbuat sewenang-wenang terhadap pekerja asal Filipina, tetapi tidak demikian kepada TKI. Umumnya TKI sulit menikmati off day (libur) setiap akhir pekan untuk berkumpul dengan sesama PRT di Pantai Marina. Seperti penuturan Wati (29), PRT asal Gresik, Jawa Timur, yang ditemui di Bandara SoekarnoHatta, pekan lalu. TKI katanya “kalah” dalam segala hal dibandingkan dengan PRT dari Filipina.

Soal gaji saja, untuk PRT asal Indonesia pada tujuh bulan pertama dipotong oleh perusahaan jasa tenaga kerja asing (PJTKA) sebesar 210 dollar Singapura. Jadi, selama kurun waktu itu si TKI cuma bisa menikmati 20 dollar Singapura. Pemotongan gaji selama tujuh bulan oleh majikan atas perintah PJTKA (atau disebut agen) itu berlaku bagi seluruh TKI.

Pemotongan gaji TKI ini, katanya, untuk menutup biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) sejak TKI direkrut, selama di penampungan, sampai keberangkatan ke Singapura. Selanjutnya PJTKA mengurus dan membiayai TKI sampai mendapat majikan.

Akibatnya, saat bekerja TKI cenderung kurang bertanggung jawab atas pekerjaannya. Bahkan, karena masalah kecil atau alasan tidak betah saja, mereka sudah minta pulang ke Indonesia.

Padahal, TKI umumnya masih terikat pembiayaan kembali biaya penempatan oleh PJTKI, PJTKA, dan majikan. Berdasarkan sistem yang berlaku saat ini, TKI harus mengembalikan biaya penempatannya melalui pemotongan gaji empat sampai enam bulan, atau sekitar 800-1.200 dollar Singapura. “Masalah ini semakin berat apabila ternyata TKI mendapatkan majikan yang tidak baik sehingga memengaruhi semangat dan kesungguhan bekerja TKI,” katanya.

Majikan, menurut sejumlah TKI yang juga baru tiba di Indonesia, sering memaki, bahkan menganiaya TKI hanya gara- gara masalah kecil, seperti menyapu lantai tidak bersih atau telat datang beberapa menit saat dipanggil majikan. Perlakuan majikan sangat kontras dengan PRT asal Filipina. Majikan, misalnya, tidak berani memerintahkan PRT Filipina menjemur pakaian memakai kayu atau besi melalui jendela apartemen.

“Orang Filipina berani menolak tugas dari majikan jika perintah menyalahi perjanjian kerja (PK),” kata Wati, yang sudah tiga tahun bekerja di Singapura dan tidur bersama anjing majikannya di lantai tanpa selembar alas pun.

Jadi, kata dia, jangan heran kalau banyak PRT asal Indonesia mati karena jatuh dari lantai enam atau bahkan lantai yang lebih tinggi lagi saat menjemur pakaian.

BERDASARKAN data Kedutaan Besar RI (KBRI) di Singapura, sejak 1999 hingga April 2004, tercatat 95 TKI tewas setelah jatuh dari gedung apartemen saat bekerja. Berbagai persoalan terus mendera TKI karena PJTKI dan PJTKA tak memenuhi berbagai ketentuan KBRI. Misalnya, kewajiban melaporkan penempatan dan keberadaan setiap TKI yang baru datang dari Indonesia dan lalu dipekerjakan di kota ini.

Sebagian PJTKI dan PJTKA tidak mengikuti aturan itu sehingga setiap muncul persoalan, KBRI hanya sebagai tempat penampungan TKI bermasalah. Pasalnya, sering terjadi KBRI baru mengetahui data dan keberadaan TKI di Singapura ketika PRT tersebut datang ke KBRI untuk memperpanjang paspor, memperpanjang PK setelah dua tahun bekerja, atau jika mengalami kecelakaan dan bersengketa dengan majikan.

Tidak jarang TKI tiba di KBRI dalam kondisi fisik sangat lemah atau beberapa bagian di tubuhnya memar karena disiksa dan dianiaya majikan. Paling tidak, dua atau tiga PRT Indonesia setiap hari datang ke KBRI dengan membawa berbagai persoalan sehingga dalam sebulan sedikitnya 60 TKI ditampung di KBRI. Biasanya TKI bermasalah ini menolak kembali ke majikan dengan berbagai alasan.

Beberapa di antaranya bahkan minta ganti majikan atau pulang ke Indonesia. “Majikan saya kasar. Kalau saya dipanggil dan tidak dengar, mungkin lagi sibuk, pasti dipukul ya pakai sapu atau apa saja. Saya minta pulang saja,” kata Yati (18) asal Cilacap, Jawa Tengah, yang baru tiga bulan bekerja di kawasan Bukit Timah, Singapura.

Namun, pilihan terakhir pulang ke Indonesia sebelum kontrak berakhir bukan pilihan terbaik. Agen biasanya akan mencaci-maki atau, bahkan, menganiaya si TKI. Sumpah serapah disertai penganiayaan terhadap TKI dilakukan agen karena untuk mendatangkan TKI ke Singapura, si agen, katanya, telah mengeluarkan biaya besar. “Pokoknya tidak mungkin kembali ke Indonesia sebelum kontrak berakhir. Jadi, selama menjalani sisa kontrak TKI harus siap bekerja dan menderita,” ungkap Yati, dengan berurai air mata.

Cerita pedih juga diungkap Rosa (25), TKI asal Nusa Tenggara Timur. Di tempat majikannya ia bekerja bersama lima pekerja asing dari Filipina. Menurut Rosa, perlakuan majikan terhadap seluruh PRT sangat diskriminatif. Majikan cenderung hanya memuji hasil kerja pekerja Filipina, meskipun sering hasil pekerjaan merupakan karya bersama. Yang berperilaku kasar bukan majikan saja, tetapi juga agen.

Saat ini dari sekitar 1.040 PJTKA yang terdaftar di Departemen Tenaga Kerja Singapura (Ministry of Manpower/MOM) hanya 200 PJTKA yang aktif menyalurkan TKA ke majikan. Dari jumlah tersebut, terdapat 98 PJTKA yang mendapatkan akreditasi di KBRI dan bekerja sama dengan PJTKI dalam menyalurkan PRT Indonesia di Singapura.

Cerita sedih di luar negeri berlanjut ketika mereka tiba di Tanah Air. Di negerinya sendiri, mereka kembali menjadi obyek pemerasan dan kesewenang- wenangan berbagai pihak. (agnes swetta pandia)


Aksi

Information

3 responses

24 07 2008
sepedagaek

kapan yah TKI ini benar gak ada masalah lagi, mari kita cari solusi bersama. Senang saya menemukan blog ini.Salam kenal
Silahkan juga ya mampir ke blog kami, ditunggu komentarnya
http://sepedagaek.wordpress.com/

26 07 2008
uki2000

salam kenal balik sepedagaek.
saya udah mampir di blog anda ,wah cukup bagus jadi inget masa dulu sewaktu punya sepeda BMX.

30 06 2010
bootet

masalahnya adalah latar belakang,yg mana kejadian yg sama terulang dan terulang lagi,coba deh lebih selektif yg qualified yg bisa masuk ke luar negri yg mana benar2 bisa bahasa inggris, keliatan kecil tapi itu adalah pokok masalah kesewenangan kepada tki/tkw kita,orang filipina bisa bahasa inggris dg mahir itu alasan mereka dan itu benar mereka punya tambah point di banding tki/tkw indonesia,walupun kita kerja giat tapi gak bisa b inggris penilaian mereka tetp Nol!!,cerita tki/tkw kita,sama dg cerita mexian (orang mexico) yg kerja di Amerika ( saya pernah kerja di amerika selama 7 thn ) yg mana yg menjatuhkan kedudukan/posisi mereka di bawah Orang indonesia ( kualiatasnnya ) karena rata2 orang mexico minim B inggris.Mereka nganggap Bodoh,gak sekolahan dll,beda klo ke orang indonesia mereka/juragan2 nggak berani ( rata2 orang indonesia yg kerja di amrik pinter2 b ingrisnnya ) 1 hal mereka nggak akan sewenang2/gak akan berani bila kita bisa b inggris atau apa yg mereka katakan kita mengerti dg baik,mereka pikir simple aja, bisa b inggris berarti orang sekolahan( berkualitas )

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: