KONSEP KEPRIBADIAN GURU

23 10 2009

Dosen Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang (UIN) Malang

 

  1. A. Pendahuluan

Guru merupakan profesi yang mengalami pasang surut dalam percaturan dunia keprofesian. Kalaulah dulu guru dianggap profesi sakral, membanggakan yang terlihat ketika dengan bangganya seorang yang bermantukan seorang guru, tapi saat ini disinyalir menjadi profesi yang termarginalkan. Ini terlihat dari banyaknya generasi penerus yang sedikit bercita-citakan seorang guru. Mereka cenderung menjadikan dokter, insinyur, pilot sebagai pilihan profesi di masa depan. Ada berbagai macam alasan yang dikemukakan akibat ketidakmauan mereka, namun yang jelas kesejahteraanlah yang menempati urutan pertama bagi seseorang untuk tidak memilih guru sebagai profesinya.

Fenomena di atas disebabkan adanya pergeseran dalam memaknai profesi seorang guru. Pergeseran ini disebabkan beberapa faktor, baik faktor eksternal maupun faktor internal. Faktor eksternal diantaranya:

  1. Adanya sebagian pandangan masyarakat bahwa siapapun dapat menjadi guru asal dia berpengetahuan.
  1. Kekurangan guru di daerah terpencil memberikan peluang untuk mengangkat seseorang yang tidak mempunyai keahlian (mendidik) untuk menjadi guru.
  1. Banyak guru yang belum menghargai profesinya apalagi berusaha mengembangkan profesinya tersebut.

Sedangkan faktor internal yang dimaksud adalah adanya kelemahan yang terdapat pada diri guru itu sendiri diantaranya rendahnya kompetensi profesional mereka.

Kesemuanya itu telah menjadi wacana umum yang terus dicari pemecahannya, terutama di akhir 2005 dengan akan disahkannya UU profesi guru dan dosen. Namun demikian perlu disadari bersama, bahwa UU tersebut bukan satu-satunya solusi yang dapat mendongkrak popularitas profesi guru. Naiknya popularitas guru hanya akan terjadi bila guru secara pro aktif meningkatkan kapasitasnya sebagai guru. Artinya, UU tersebut tidak akan berdaya guna secara maksimal bila guru sendiri kurang greget dalam meningkatkan kualitas dia sebagai seorang guru.

B. Pembahasan

Kepribadian guru mempunyai kelebihan sendiri bila diterapkan dalam kelas karena ia akan memberikan kecenderungan dan kesenangan yang berbeda kepada murid. Namun ada juga yang mengatakan bahwa kepribadian guru sulit ditemukan kadarnya dan tidak mudah untuk dicari batasannya serta sulit juga untuk didefinisikan secara jamik dan manik. Kepribadian juga diibaratkan sebagai magnit, listrik dan radio yang tidak bisa diketahui kecuali setelah tahu bekasnya atau pengaruhnya.

Kepribadian ialah kumpulan sifat-sifat yang aqliah, jismiah, khalqiyah dan iradiah yang biasa membedakan seseorang dengan orang lain (Slamet Yusuf:37).

Dikatakan guru yang mahir adalah guru yang mampu untuk menundukkan hati mereka dan mempengaruhi mereka dengan baik sehingga ia dapat memerintah mereka dan berbicara dengan mereka. Maka dengan kepribadian itu memungkinkan untuk mengarahkan mereka pada jalan yang lurus.

Umar bin Utbah (dalam Slamet Yusuf:39), berkata pada guru dari anaknya sebagai berikut: “Hendaklah perbaikan pertama-pertama yang engkau lakukan terhadap anak saya dilakukan dengan perbaikan dirimu maka mereka akan tertuju padamu, yang mereka anggap naik adalah apa yang engkau tinggalkan. Menurut Mr. Norman Mc. Munn (Slamet Yusuf:41), kepribadian itu didapatkan dari latihan yakni dari kebiasaan dan pendidikan yang sungguh-sungguh. Tokoh pendidikan dari Inggris, Sir T. percy Nunn mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah mendidik kepribadian (Andreas Hafera, 2000).

Kepribadian itu bisa membangkitkan semangat, tekun dalam menjalankan tugas, senang memberi manfaat kepada murid menghormati peraturan sekolah sehingga membuat murid bersifat lemah lembut memberanikan mereka, mendorong pada cinta pekerjaan, memajukan berfikir secara bebas tetapi terbatas yang bisa membantu membentuk pribadi menguatkan kepribadian menguatkan kehendak membiasakan percaya pada diri sendiri.

Suksesnya seorang guru tergantung dari kepribadian, luasnya ilmu tentang materi pelajaran serta banyaknya pengalaman. Tugas seorang guru itu sangat berat, tidak mampu dilaksanakan kecuali apabila kuat kepribadiannya, cinta dengan tugas, ikhlas dalam mengerjakan, memelihara waktu murid, cinta kebenaran, adil dalam pergaulan. Ada yang mengatakan bahwa masa depan anak-anak di tangan guru dan di tangan gurulah terbentuknya umat.

Ditulis Athiyah Al-Abrosy (dalam Slamet Yusuf:42) bahwasannya sifat-sifat yang seyogyanya dimiliki seorang guru:

Guru harus menjadi bapak sebelum ia menjadi pengajar.

  1. Hubungan guru dengan murid harus baik.
  2. Guru harus selalu memperhatikan murid serta pelajaran mereka.
  3. Guru harus peka terhadap lingkungan sekitar murid.
  4. Guru wajib menjadi contoh/teladan di dalam keadilan dan keindahan serta kemuliaan.
  5. Guru wajib ikhlas di dalam pekerjaannya.
  6. Guru wajib menghubungkan masalah yang berhubungan dengan kehidupan.
  7. Guru harus selalu membaca dan mengadakan penyelidikan.
  8. Guru harus mampu mengajar bagus penyiapannya dan bijaksana dalam menjalankan tugasnya.
  9. Guru harus sarat dengan ide sekolah yang modern.
  10. Guru harus punya niat yang tetap.
  11. Guru harus sehat jasmaninya.
  12. Guru harus punya pribadi yang mantap.
  1. Guru ditempatkan pada tempat yang mulia sesuai dengan hadits Nabi.

Pada suatu hari, Rasulullah keluar rumah kemudian beliau melihat 2 majelis. Majelis yang satu terdiri dari orang yang berdoa kepada Allah dan mengharap kepadanya. Majelis yang kedua terdiri dari orang yang mengajarkan agama kepada manusia. Beliau bersabda adapun yang itu (yang pertama) mereka memohon kepada Allah jika Dia berkenan mereka akan diberi dan Dia juga berkenan untuk tidak memberi. Dan yang itu (kedua) mereka mengajari manusia, dan bahwasannya aku diutus hanya untuk mengajar. Kemudian beliau maju dan ikut duduk pada kelompok yang kedua. Dengan demikian Nabi yang mulia telah membuat sebaik-baik contoh buat kita agar menjadi pengajar dan pendorong dalam mengajar dan mengakui keutamaannya.

Demikian juga yang dikatakan Martin Luther: “jika aku diberi waktu untuk meninggalkan tugas memberi nasihat dan memberi petunjuk pasti aku akan memilih profesi sebagai pengajar.

Ucapan Bismark: “sungguh kami telah dipengaruhi oleh guru.” Senada dengan itu Iramus dalam ucapannya: “berilah aku kantor untuk guru dan aku berjanji dengan hati seorang berilmu.” Sedangkan Syauki Bik: “berdiri dan hormatilah guru dan berilah ia penghormatan.”Hampir-hampir saja seorang guru itu merupakan utusan.

“Hai Ben Sherira, curahkanlah segenap   tenagamu untuk mengajar anak-anakmu sewaktu masih kecil dan berikanlah hadiah kepada guru atas jasanya karena apa yang kamu beriakan adalah diberikan untuk anak-anakmu,” ungkap Ustadz Al Alim Al Muhiqq Ahmad Amin,

Mengajar adalah pekeejaan yang memayahkan, tidak mendatangkan harta dan tidak memperoleh pangkat. Mengajar itu hanya pantas dan bagus bagi orang yang Qona’ah terhadap masalah dunia dengan hidup sederhana dan dalam pembagian rizki yang sangat sempit. Guru yang fasid adalah guru yang menjadikan harta dan pangkat sebagai tujuan utama dan mengharapkan keduniaan. Mengajar adalah pekerjaan jiwa. Guru itu menciptakan dirinya dan amalnya ke langit, keluarganyalah yang menariknya ke bumi dengan kekerasan.

Apakah dia rela berkorban seperti berkorbannya tentara? Apakah dia siap menerima kenyataan untuk betapa seperti pendeta? Apakah dia siap berhibur dengan harta ma’nawi untuk meninggalkan yang materi dan membentuk dirinya sebagai orang berilmuu yang qona’ah serta menempatkan kelezatan-kelezatan akal dan kelezatan rohani pada kelezatan badan?”

Seorang penulis Inggris (dalam Slamet Yusuf:32) mengatakan: “kurikulum, peraturan sekolah, bangunan-bangunan yang besar dan megah dalam pendidikan dan pengajaran tidaklah lebih penting dari guru, karena guru mempunyai pengaruh besar di hadapan siswa dari ilmunya, etikanya, perbuatannya dan keterampilannya.

Fesyar pernah menyerukan tahun 1017 (dalam Slamet Yusuf: 35) bahwa guru seharusnya sudah tidak merasa kesulitan lagi dalam masalah keuangan atau kebutuhan hidupnya karena tugas pokok mereka adalah mengelola pendidikan, bagi guru yang sudah kawin hendaknya mempunyai kondisi sosial ekonomi yang sudah mapan sehingga mampu mendidik keluarganya dengan baik. Seorang guru yang susah, begitu juga seorang guru yang miskin akan mendapat kesan yang kurang baik di tengah-tengah masyarakat.

Tugas guru dapat disimpulkan mempunyai 3 tugas pokok, yaitu: (1) tugas dalam bidang profesi yang meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Tugas guru dalam hal ini dituntut untuk selalu mengembangkan profesionalitas diri sesuai dengan perkembangan IPTEK, (2) tugas dalam bidang kemanusiaan, memposisikan dirinya sebagai orang tua kedua (Usman: 2002: 7), (3) tugas dalam bidang kemasyarakatan dalam hal ini pembelajaran seperti dikutip Usman dari Adfams dan Decey dalam “Basic Principles of Student” meliputi: (a) guru sebagai demonstrator, (b) sebagai pengelola kelas, (c) sebagai mediator dan fasilitator, (d) sebagai evaluator. Sedangkan menurut Djamarah (2000: 44) meliputi: (a) sebagai inspirator, (b) sebagai informatory, (c) sebagai organisator, (d) sebagai motivator, (e) sebagai inisiator, (f) sebagai pembimbing, (g) sebagai uswah (teladan atau model), (h) sebagai penasihat.

  1. Kompetensi: kepribadian

Kompetensi secara bahasa diartikan kemampuan atau kecakapan. Hal ini diilhami dari KKBI dimana kompetensi diartikan sebagai wewenang atau kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan suatu hal. Sedangkan menurut Partanto (1994), dalam Kamus Ilmiah Populer, kompetensi diartikan sebagai kecakapan, wewenang, kekuasaan dan kemampuan. Sedangkan secara terminologis, sebagai berikut:

Menurut Broke dan Stone, gambaran hakikat kualitatif dari perilaku guru yang  tampak sangat berarti.

  1. Mc Leod dalam Usman (2001), keadaan berwenang atau memenuhi syarat menuntut ketentuan hokum.
  2. Jhonson, perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang diprasyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan.
  3. Pengertia lain diartikan sebagai kemampuan dasar yang mengaflikasikan apa yang seharusnya dapat dilaksanakan oleh seorang guru dalam melaksanakan tugasnya.
  4. Menunjuk pada kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan.
  5. Hitami dan Sahrodi (2004), pemilikan nilai, silap dan keterampilan yang diperlukan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
  6. McAshan dalam Mulyasa (2003: 38) sebagai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya.
  7. Finch dan Crunkilton (1979: 222) merupakan penguasaan terhadap suatu tugas, keterampilan sikap dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan.
  8. Kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban secara bertanggung jawab dan layak.

Aspek kompetensi menurut Gordon dalm Mulyasa (2003: 39):

  1. Pengetahuan
  2. Pemahaman
  3. Kemampuan
  4. Nilai
  5. Sikap
  6. Minat

Jenis kompetensi, meliputi diantaranya: (a) kompetensi personal, (b) kompetensi professional, (c) kompetensi meiputi (a) terampil berkomunikasi dengan orang lain (b) bersikap simpatik terhadap siswa dan masyarakat (c) dapat bekerjasama dengan orang lain, (d) pandai bergaul.

Kompetensi personal, yaitu sikap pribadi guru yang dijiwai oleh agama dan filasafat pancasila yang akan mengagungkan moral dan budaya. Dan ini mencakup kemampuan dan integritas pribadi, peka terhadap perubahan dan pembaharuan, berfikir alternatif, adil, jujur, obyektif, disiplin, ulet, tekun, simpatik, menarik, luwes, terbuka, kreatif dan berwibawa. Kompetensi personal bisa diidentikkan dengan kepribadian dan kepribadian yang baik akan berpengaruh terhadap hidup dan kebiasaan belajar para siswa. Untuk memiliki kepribadian yang baik ini guru dituntut memiliki kematangan dan kedewasaan pribadi serta jasmani dan rohani, dan cirinya adalah sebagai berikut: (1) memiliki pedoman hidup, (2) mampu melihat segala sesuatu secara obyektif, (3) mampu bertanggung jawab.

Ciri guru yang profesional dikutip dalam Jurnal Educational Leadership (1998): (1) mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya, (2) menguasai secara mendalam bahan pelajaran yang diajarkannya serta metode pelajaran yang relevan, (3) bertanggung jawab dalam memantau hasil belajar melalui berbagai cara evaluasi, (14) mampu merpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya, (5) guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya.

Yang mempengaruhi rendahnya profesionalisme guru, menurut Akadum (1999) (1) masih banyak guru yang tidak menekuni profesinya secara total, (2) rentan dan rendahnya kepatuhan guru terhadap norma etika profesi keguruan, (3) pengakuan terhadap ilmu pendidikan dan keguruan masih setengah, dll.

Jihad oleh Muhaimin (2003: 230-231) diartikan sebagai makna kesediaan bekerja keras dengan mencurahkan segala kemampuan, baik fisik/materi maupun totalitas dirinya menuju jalan Allah, mempunyai sikap ketelitian dan kecermatan, serta terbuka terhadap kritik dari luar, mempunyai kebanggaan terhadap pekerjaan yang bermutu (bukan asal kerja) dan mempunyai wawasan jangka panjang (harapan masa depan).

Mengenai kesejahteraan guru menurut Komball Wiles (dalam Bafadal, 2003: 101-102), ada 8 hal yang diinginkan guru melalui kerjanya: (1) adanya rasa aman dan hidup layak, (2) kondisi kerja yang menyenangkan, (3) rasa diikutsertakan, (4) perlakuan yang wajar dan jujur, (5) rasa mampu, (6) pengakuan dan penghargaan atas sumbangan, (7) ikut ambil bagian dalam pembuatan kebijakan sekolah, (8) kesempatan mengembangkan self respect.

Pembahasan diatas semakin mempertajam adanya keterkaitan yang kuat antara kompetensi dan kepribadian guru. Keduanya secara bersamaan mencoba untuk merealisasikan profil guru ideal dari berbagai sudut pandang baik personal, sosial dan akademik.

  1. Kepribadian guru dalam perspektif historis.

 

  1. Profil guru di masa dulu

Secara singkat  telah dijelaskan di atas bahwa profesi guru di masa dulu merupakan profesi idaman, dimana semua orang ingin menjadi guru, kalau toh tidak berhasil sekedar bermantukan seorang guru saja pun sudah bangga.

Kebanggaan yang mendarah daging di masa lalu ini merupakan sesuatu yang menarik untuk dikaji, ada apa dengan guru sehingga menjadi profesi yang sangat diminati? Padahal kalau dilihat secara kasat mata, dari kesejahteraan sangat jauh dari kurang, namun demikian mereka selalu mendapatkan tempat tertinggi dalam tatanan masyarakat pada waktu itu. Guru benar-benar diposisikan dan dihargai.

Bila bukan dari aspek kesejahteraan, pastilah ada aspek yang sangat fenomenal dalam profesi guru iru sendiri. Sosok Ki Hajar Dewantara merupakan sosok yang mewakili profil guru di masa lalu. Artinya, bila ingin mengetahui secara detail tentang profil guru di masa lalu, maka amatilah kepribadian beliau. Sosok guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa benar-benar dapat diamati, tak ada batasan waktu, tempat dalam mengajarkan ilmu dan yang paling penting mereka betul-betul ideal model. Apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan sejalan yang secara tidak langsung menimbulkan kewibawaan sejati dalam diri beliau.

Kepribadian semacam inilah yang kemudian menjadikan murid-murid beliau termotivasi untuk menjadi guru sekaliber Ki Hajar Dewantara. Ini sesuai dengan statement yang mengatakan bahwa pribadi guru itu besar sekali pengaruhnya terhadap keberhasilan darma baktinya dan guna berpengaruh pada muridnya.

Namun demikian harus juga dipahami juga bahwa bukan hanya kepribadian saja yang menentukan keberhasilan tugasnya sebagai guru tetapi juga harus dilengkapi dengan ilmu khusus, kebudayaan tertentu dan persiapan pelayanan yang teratur.

Artinya bisa dikatakan profil guru di masa lalu adalah profil guru ideal, dimana mereka mumpuni dan matang dalam aspek kepribadian, keilmuan dan perilaku yang semua itu kemudian dilengkapi dengan semangat pengabdian atau menurut Muhaimin identik dengan semangat jihad. Jihat boleh diartikan sebagai makna bekerja keras (dengan mencurahkan segala kemampuan, baik fisik/materi maupun totalitas dirinya) menuju jalan Allah, mempunyai sikap ketelitian dan kecermatan, serta terbuka kritik dari luar, mempunyai kebanggaan terhadap pekerjaan yang bermutu (bukan asal kerja) dan mempunyai wawasan jangka panjang (harapan masa depan).

Secara lebih dalam, profil guru masa lalu bisa diamati dalam sajak berikut ini:

Siapa guru bangsa ini?

Anda dan saya!

Yang berarti kita. Semua tak terkecuali

Termasuk pak Lurah adalah guru bangsa ini ketika

Dengan senyum membuatkan KTP bagi si Bejo

Tanpa rasa pamrih. Juga pak Darmo yang sopir bus

Adalah guru bangsa ini ketika mempersilahkan

Kendaraan lain yang mau menyalip untuk mendahului.

Demikian pak Budi yang pengusaha adalah guru bangsa ini

Ketika membuang limbah tanpa merusak lingkungan.

Tak terkecuali pak Edi, pejabat yang senantiasa

Lebih dulu memberi salam selamat pagi kepada

Bawahannya, dia adalah guru bangsa ini.

Atau si Udin, adalah guru bangsa ini ketika membuat sumur

Tidak pernah menipu soal kedalaman sumurnya.

Mereka semua adalah guru bagi bangsanya.

Termasuk anda dan saya.

Kalau bukan kita siapa lagi yang mau membimbing

Negeri ini agar lebih baik dan lebih maju.

Perlukah kita mendatangkan guru-guru dari negara lain?

Relakah kalau kita digurui oleh bangsa-bangsa lain?

Atau maukah kita terus-terusan menjadi murid bagi bangsa ini?

Kita semua wajib menjadi guru bagi kemajuan bangsa ini. (dikutip dari Tilaar, 1999:333)

b. Profil guru di masa kini dan akan datang.

Kemerosotan profesi guru baik di dalam minat pemuda kita untuk memasukinya maupun oleh masyrakat yang kurang memberi perhatian atau penghargaan terhadap profesi guru menunjukkan adanya keharusan untuk mencari paradigma baru supaya profesi guru memenuhi tuntutan masyarakat baru dalam milenium ketiga. Perlu disadar bahwa fungsi dan peranan guru bisa berubah tapi profesi akan  tetap selalu dibutuhkan.

Sebelum menganaslisa tentang profil atau kepribadian guru masa kini dan akan datang maka perlu diketahui karakteristik masyarakat yang dihadapi yang notabene merupakan konsumen atau pengguna jasa pendidikan. Menurut Tilaar (1999: 281), ada 3 karaktristik masyarakat masa kini dan akan datang (= masyarakat milenium 21), yaitu:

1)       Masyarakat teknologi, dimana kemajuan teknologi sangat berkembang pesat sehingga membuat dunia menjadi satu, sekat-sekat yang membatasi bangsa-bangsa, pribadi-pribadi menjadi hilang sehingga bentuk-bentuk komunikasi umat manusia akan berubah.

2)       Masyarakat terbuka, pada jenis ini dibutuhkan manusia yang mampu mengembangkan kemampuan dan yang mampu berkreasi untuk peningkatan mutu kehidupannya serta sekaligus mutu kehidupan bangsa dan masyarakatnya.

3)       Masyarakat madani, yaitu masyarakat yang saling menghargai satu dengan yang lain, yang mengakui akan hak-hak manusia yang menghormati akan prestasi dari para anggotanya sesuai dengan kemampuan yang dapat ditunjukkannya bagi masyarakat.

c. Deskripsi profil guru masa kini.

Untuk memahami posisi guru masa kini, dapat dipahami dari sajak-sajak berikut:

Sejuta batu nisan

Guru tua yang terlupakan sejarah

Terbaca torehan darah kering

Disini berbaring seorang guru

Semampu membaca buku usang

Sambil belajar menahan lapar (Kompas, 26 Desember 2006).

Dari puisi diatas dapat dipahami ada 3 pesan global yang disampaikan Winarno, yaitu:

1)       Adanya kecenderungan profesi guru terlupakan. Senada dengan ini, Tilaar juga mengatakan bahwa profesi guru diambang kematian karena bukan saja tidak diminati putra bangsa yang terbaik juga masyarakat sendiri tidak memberikan penghargaan yang wajar terhadap profesi guru. (Tilaar: 1999: 285). Padahal untuk mengatasi itu semua diperlukan suatu penghargaan masyarakat, karena suatu profesi akan hidup dan berkembang apabila tersebut dihargai oleh masyarakat. Dan ini ditunjukkan dengan adanya keinginan masyarakat untuk memilihprofesi guru sebagai unggulan.(Tilaar: 1999: 291)

2)       Kemampuan finansial yang amat memprihatinkan. Tilaar dalam hal ini mengatakan bahwa imbalan ekonomis dalam sektor modern lebih besar daripada profesi yang tua seperti guru dan petani.

3)       Pentingnya mengembalikan guru sebagai profesi suci, mengingat banyak guru yang  terjangkiti perilaku instan dan praktis.

Setelah kita melihat profesi guru Indonesia dewasa ini tentunya tidak dapat kita harapkan masyarakat kita dapat dibawa untuk memasuki masyarakat abad 21 yang kompetitif. Masyarakat kompetitif yang dikuasai oleh ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi khususnya teknologi komunikasi. Untuk itu profil guru yang dibutuhkan adalah:

1)        Memiliki kepribadian yang matang dan berkembang (mature and developing personality)

2)        Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kuat, hal ini diilhami dari surat Az-Zumar ayat 9: ”Katakanlah apakah sama orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui? Bahwasannya yang dapat mengambil pelajaran itu adalah orang yang mempunyai akal.” Dan juga surat Ash-Shaf ayat 2-3: “Hai orang-orang yang beriman mengapa kau mengatakan sesuatu yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian Allah karena kau mengatakan sesuatu yang tidak kamu perbuat.”

3)        Keterampilan membangkitkan minat peserta didik.

4)        Pengembangan profesi yang berkesinambungan.

C. Analisis

Uraian diatas menjelaskan secara kongkrit bagaimana meningkatkan popularitas profesi guru di masa kini dan akan datang. Bila diklasifikasikan, maka penjelasan diatas hanya berkutat atau ditekankan pada aspek, (1) performansi (penampilan luar) seorang guru, (2) akademik, dimana guru dituntut untuk selalu belajar dfan meneliti, (3) kesejahteraan guru. Ketiga hal diatas tidak balance sehingga yang terjadi protes akan rendahnya gaji yang diterima seorang guru sehingga harus ngompreng sana ngompreng sini.

Dari klasifikasi diatas, maka dapat langsung dikatakan bagaimana sebenarnya profil guru kita ini. Namun demikian, kesalahan tidak terletak pada guru sebagai person, tetapi semua itu telah termasukkan dalam sistem yang sangat kuat sehingga diperlukan kontinuitas untuk memperbaikinya.

Dari pembahasan tentang profesi guru diatas, penekanan yang diperjuangkan hanyalah pada masalah materiil sehingga sangatlah wajar bila kemudian salah satu pengajar UIN Jakarta dalam Swara Cendekia mengatakan bahwa sistem pendidikan kita sudah termatrialisasikan, artinya semuanya harus ada pelicin. Dan ini berimbas pada guru, dimana kita jumpai sangat minimnya jiwa pengabdian yang ada dalam diri guru, apalagi yang berada di perkotaan.

Selain minimnya semangat pengabdian=jihad, minim pula sifat qona’ah seorang guru sehingga terjadilah malapraktik pendidikan, baik dengan menjual nilai, nggompreng buku atau sampai jualan narrkoba. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa guru kita miskin kreativitas atau kurang lincah dalam menangkap peluang yang ada.

Sehingga kita tidak menyalahkan jika ada statement bahwa pekerjaan guru itu berat untuk itu dibutuhkan komitment tinggi untuk melakoninya. Artinya jika profesi guru sudah menjadi pilihan kita, maka pastilah sudah disadari sejak awal bagaimana plus-minusnya profesi guru. Jika ini disadari secara mendalam, maka tidak akan ada protes sampai turun ke jalan hanya untuk sekedar untuk memperjuangkan hak, padahal bila ditanyakan ulang sudahkah seorang guru melakukan kewajiban, karena notabene hak bisa diambil bila sudah melakukan kewajiban, baik kewajiban mengajar atau mendidik. Ini juga pernah dilakukan Socrates, dimana ia menolak gaji (Hasan: 1998: 187).

Menyikapi hal ini, hendaklah kita melakukan apa yang dikatakan Maslow sebelum hidupnya berakhir dengan mengatakan, ini senada dengan piramid Maslow yang telah dibalik, karena diakhir hidupnya Maslow mengatakan Every one should self actualize as a first priority then for themselves people will be valued by others, loved by others, feel secure and survive. Bila dianalogikan, maka setidaknya guru harus melakukan sesuatu terlebih dahulu untuk dapat dihargai (mis, baik itu dengan mengajar dengan maksimal). Bila ini sudah dilakukan maka secara otomatis, masyarakat ataupun pemerintah tanpa diminta pun akan menaikkan kesejahteraan guru.

Masalah pengertian kepribadian guru dari waktu ke waktu dapat diperjelas dari tabel berikut ini:

NO

DULU

KINI, AKAN DATANG

1. Tanpa pamrih No pamrih no service
2. Komitmen tinggi Komitmen angin-anginan
3. Istiqomah Istiqomahnya tergantung
4. Qona’ah Kurang Qona’ah

<br><br>

Keterangan:

 

Bila mau dikomparasikan, maka ke-3 hal diatas adalah profil guru di masa dulu dengan guru di masa kini dan akan datang. Dan bila dipahami lebih lanjut, perbedaan terletak pada ruh pendidikan itu sendiri. Artinya pendidikan yang notabene lapangan pengabdian, seorang guru menggunakan paradigma yang berbeda. Bila dahulu paradigma yang digunakan adalah amal jariyah ansich. ini semua termotivasi dari hadits nabi tentang 3 amalan kekal yang salah satunya adalah amal jariyah, serta hikmah arab:

Sedangkan paradigma guru masa kini dan masa akan datang (merupakan prediksi, artinya bisa terjadi dan tidak), berpatokan pada mencari rejeki sebanyak-banyaknya. Karena rejeki yang dicari maka bila mendapatkan rejeki kecil akan kebingungan dan mencari obyekan lain. Protes gaji dan demo-demo lainmerupakan akibat logis dari paradigma yang digunakan tersebut.

Selain itu bila seseorang telah memilih menjadi guru maka ia akan terjun total dalam bidang yang telah dipilihya sehingga perilaku, ucapan dan tindakan selalu disesuaikan dengan profesi yang telah dipilihnya. Sedangkan saat ini statemen ibarat guru kencing berdiri, maka murud kencing berlari merupakan dampak kurang diaplikasikannya ruh guru oleh guru tersebut. Misalnya, betapa banyak guru melarang rokok muridnya namun ia sendiri merokok dan masih banyak lagi yang lainnya.

Untuk masa kini dan masa akan datang dimana keadaan dunia dan zamat sangat global, terjangkitnya paradigma materialis dan hedinisme maka yang paling membedakan antara guru dulu dengan sekarang dan mungkin masa yang akan datang adalah sifat qona’ah yang dimiliki oleh seorang guru. Ada fenomena guru dulu tidak mau menerima gaji (Arabiah Baina Yadaik, h,103), dan keadaan ini tidak merata. Memang kita masih menjumpai guru yang bersifat qona’ah plus jiwa pengabdian yang tinggi namun itu hanya bisa dijumpai di daerah-daerah pedalaman dan hampir bisa dipastikan mereka menyadari komitmen sebagai seorang guru. Sedangkan di daerah kebanyakan, adalah sebaliknya.

D. Tawaran solusi

 

Melihat fenomena kepribadian guruyang kian hari kian bergeser dan melemah, maka diperlukan usaha untuk dapat memperbaiki keadaan ini yang nantinya secara tidak langsung akan mendongkrak profesi guru itu sendiri. Diantara yang dapat kita tawarkan di sini adalah:

1. mempertebal sifat qona’ah

Guru di masa kini dan masa akan datang haruslah memahami betul agar dapat bersikap qona’ah, bersikap menerima tapi bukan pasif keadaan yang bangsa yang sulit ini bukanlah harus ditangisi, tapi dijadikan tantangan untuk dapat mengeksplorasi kreativitas guru. Hal ini sudah terjadi di sektor kehidupan yang lainnya seperti ekonomi. Naiknya harga BBM malah menjadikan seseorang lebih kreatif untuk membuat kompor yang berbahan bakar rendah ekonomis. Guru sendiri juga bisa bila mau, misalnya bagaimana seorang guru bertindak seminim mungkin namun tetap tujuan pembelajaran tercapai. Artinya mengajar jangan hanya dimaknai sebagai pelajaran yang melelahkan, namun enjoy. Partisipasi guru dalam kegiatan penelitian (dalam hal ini penelitian tindakan kelas) seharusnya dijadikan salah satu cara untuk dapar meningkatkan ekonomi guru. Itupun kalau jeli melihat peluang seperti yang dilakukan oleh guru Bahasa Indonesia MTsN Malang I.

2. mempertebal komitmen

Ketika seseorang memilih profesi guru, maka saat itu juga harus disadari bahwa guru adalah pekerjaan mengabdi bukan lahan bisnis. Bila ini disadari secara total maka akan tercipta sosok guru yang sangat qona’ah berkomitmen tinggi. Untuk merealisasikan hal ini maka diperlukan seleksi yang ketat dalam penerimaan mahasiswa keguruan dan penyeleksian di saat akan mengabdikan ilmunya dalam lapangan pendidikan.

Komentar:

Ada beberapa hal yang sebaiknya kita bahas lebih lanjut, diantaranya adalah:

  1. Profesi guru yang sudah tidak lagi mendapat tempat di masyarakat, yang salah satunya disebabkan rendahnya kemampuan ekonomi guru di Indonesia pada masa ini dan rendahnya kompetensi guru saat ini.
  2. Kompetensi guru yang dimaksud adalah kepribadian guru.
  3. Perbandingan guru di masa lalu dengan guru di masa ini dan akan datang. Yang penulis menyatakan bahwa guru di masa dulu lebih baik dari pada guru di masa ini dan akan datang.
  4. Tawaran solusi bagi guru dengan memperdalam sifat qona’ah dan mempertebal komitmen.

Hal-hal diatas menimbulkan beberapa pertanyaan, diantaranya:

  1. Siapakah sebenarnya guru itu?
  2. Benarkah profesi guru sudah tidak mendapat tempat di masyarakat kita saat ini?
  3. Kalau benar, apakah penyebabnya?
  4. Sudah cukupkah solusi-solusi diatas?

Di dalam tulisan singkat ini kami akan mencoba membahas lebih dalam mengenai hal-hal diatas.

a. Siapakah sebenarnya guru itu?

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, guru diartikan sebagai orang yg pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Dalam hal ini berarti guru itu adalah orang yang melakukan tindakan mengajar sebagai pekerjaannya, dengan kata lain dia mengajar dan mendapat imbalan dari kegiatan mengajar tersebut. Dengan demikian seorang pengajar yang tidak mendapat imbalan dari kegiatan mengajarnya tidak dinamakan guru. Sehingga ustadz-ustadz di pondok-pondok pesantren, kiai-kiai di kampung-kampung yang mengajar anak-anak kecil membaca Al-Quran tanpa imbalan bukanlah dinamakan seorang guru atau seorang artis yang mengajarkan gaya hidup kepada masyarakat dengan metode yang berbeda, itu juga bukanlah guru yang dimaksud.

Tetapi hal ini berbeda dengan pernyataan Ali R.A yang termasuk sahabat Nabi SAW yang menyatakan bahwa orang yang mengajari kamu sesuatu walaupun hanya satu huruf hijaiyah (huruf di dalam bahasa arab) itu adalah guru kamu. Sehingga di dalam pengertian ini, maka ustadz-ustadz, kiai-kiai adalah seorang guru.

Dengan demikian yang dimaksud guru di dalam tulisan diatas adalah tepatnya guru formal.

b. Benarkah profesi guru sudah tidak mendapat tempat dalam masyarakat dan apakah penyebabnya?

Kalau kita mengacu pada pengertian guru adalah profesi, maka hal ini memang benar. Bahwa profesi guru sudah bukan lagi profesi yang sakral. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana masyarakat menempatkan seorang guru di dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dikarenakan selain faktor kepribadian guru itu sendiri seperti yang telah diuraikan di dalam tulisan diatas, juga disebabkan oleh posisi sekolah sebagai institusi guru formal di tengah-tengah masyarakat.

Posisi sekolah di tengah-tengah masyarakat saat ini sangatlah berbeda dengan posisi lembaga pendidikan lain di masa Hindu-Buddha dan masa pendidikan Islam. Dan ini sangat dipengaruhi oleh sistem yang berlaku. Dari sini ada baiknya kita ketahui dulu bagaimana sistem pendidikan pada saat itu. Uraian tentang sejarah di bawah ini kami kutip dari artikel berjudul ” Sedikit Uraian Sejarah Pendidikan Indonesia” dalam situs: http://tinulad.wordpress.com.

Pada masa Hindu-Buddha

Menurut Agus Aris Munandar dalam tesisnya yang berjudul Kegiatan Keagamaan di Pawitra Gunung Suci di Jawa Timur Abad 14—15(1990). Sistem pendidikan Hindu-Buddha dikenal dengan istilah karsyan. Karsyan adalah tempat yang diperuntukan bagi petapa dan untuk orang-orang yang mengundurkan diri dari keramaian dunia dengan tujuan mendekatkan diri dengan dewa tertinggi. Karsyan dibagi menjadi dua bentuk yaitu patapan dan mandala.

Patapan memiliki arti tempat bertapa, tempat dimana seseorang mengasingkan diri untuk sementara waktu hingga ia berhasil dalam menemukan petunjuk atau sesuatu yang ia cita-citakan. Ciri khasnya adalah tidak diperlukannya sebuah bangunan, seperti rumah atau pondokan. Bentuk patapan dapat sederhana, seperti gua atau ceruk, batu-batu besar, ataupun pada bangunan yang bersifat artificial. Hal ini dikarenakan jumlah Resi/Rsi yang bertapa lebih sedikit atau terbatas. Tapa berarti menahan diri dari segala bentuk hawa nafsu, orang yang bertapa biasanya mendapat bimbingan khusus dari sang guru, dengan demikian bentuk patapan biasanya hanya cukup digunakan oleh seorang saja.

Istilah kedua adalah mandala, atau disebut juga kedewaguruan. Berbeda dengan patapan, mandala merupakan tempat suci yang menjadi pusat segala kegiatan keagamaan, sebuah kawasan atau kompleks yang diperuntukan untuk para wiku/pendeta, murid, dan mungkin juga pengikutnya. Mereka hidup berkelompok dan membaktikan seluruh hidupnya untuk kepentingan agama dan nagara. Mandala tersebut dipimpin oleh dewaguru.

Pada masa Islam

Sistem pendidikan yang ada pada masa Hindu-Buddha kemudian berlanjut pada masa Islam. Bisa dikatakan sistem pendidikan pada masa Islam merupakan bentuk akulturasi antara sistem pendidikan patapan Hindu-Buddha dengan sistem pendidikan Islam yang telah mengenal istilah uzlah (menyendiri). Akulturasi tersebut tampak pada sistem pendidikan yang mengikuti kaum agamawan Hindu-Buddha, saat guru dan murid berada dalam satu lingkungan permukiman (Schrieke, 1957: 237; Pigeaud, 1962, IV: 484—5; Munandar 1990: 310—311). Pada masa Islam sistem pendidikan itu disebut dengan pesantren atau disebut juga pondok pesantren. Berasal dari kata funduq (funduq=Arab atau pandokheyon=Yunani yang berarti tempat menginap).

Bentuk lainnya adalah, tentang pemilihan lokasi pesantren yang jauh dari keramaian dunia, keberadaannya jauh dari permukiman penduduk, jauh dari ibu kota kerajaan maupun kota-kota besar. Beberapa pesantren dibangun di atas bukit atau lereng gunung Muria, Jawa Tengah. Pesantern Giri yang terletak di atas sebuah bukit yang bernama Giri, dekat Gersik Jawa Timur (Tjandrasasmita, 1984—187). Pemilihan lokasi tersebut telah mencontoh ”gunung keramat” sebagai tempat didirikannya karsyan dan mandala yang telah ada pada masa sebelumnya (De Graaf & Pigeaud, 1985: 187).

Seperti halnya mandala, pada masa Islam istilah tersebut lebih dikenal dengan sebutan ”depok”, istilah tersebut menjadi nama sebuah kawasan yang khas di kota-kota Islam, seperti Yogyakarta, Cirebon dan Banten. Istilah depok itu sendiri berasal dari kata padepokan yang berasal dari kata patapan yang merujuk pada arti yang sama, yaitu “tempat pendidikan. Dengan demikian padepokan atau pesantren adalah sebuah sistem pendidikan yang merupakan kelanjutan sistem pendidikan sebelumnya.

Dari sini kita ketahui bahwa kedua sistem lama tersebut sama-sama memposisikan lembaga pendidikan di tempat yang tinggi. Sehingga masyarakatpun memandang lembaga pendidikan pada masa itu dengan pandangan yang berbeda. Dan sistem tersebut bisa dikatakan berhasil, bisa kita lihat sekarang bahwa Islam adalah agama terbesar di Indonesia yang hal itu merupakan hasil dari sistem yang diterapkan wali Songo di dalam dakwahnya.

Hal ini berbeda dengan yang terjadi sekarang. Sebagaimana kita ketahui bahwa kita mengadopsi sistem pendidikan dari barat yang dibawa oleh Belanda. Dan pada perkembangannya sistem tersebut telah berubah sedemikian rupa seperti saat ini. Perbedaan yang paling mencolok salah satunya adalah posisi sekolah di tengah masyarakat. Dimana sekarang ada yang dinamakan pendidikan formal yaitu sekolah, yang mana sekolah ini bukan lagi tempat sakral tempat dididiknya seseorang, tetapi sekolah lebih berarti tempat disampaikannya ilmu dari guru ke murid. sehingga sekolah sekarang terkesan hanya sekedar “formalitas” belaka.

Memang sekarangpun masih ada pondok pesantren yang merupakan warisan dari sistem lama. Tetapi tanpa ada legalisasi (mis: ijazah pondok pesantren setara dengan ijazah SMU) dan dukungan sepenuhnya dari pemerintah, maka semakin lama lembaga ini akan terkikis atau bahkan punah dari bumi Indonesia.

Dampak langsung terhadap profesi guru adalah pada pertanyaan siapakah guru itu? Kalau di masa Hindu-Buddha dan Islam guru adalah orang suci dengan segala kompetensi yang dimiliki, maka sekarang guru itu adalah orang yang bekerja secara formal dan mendapatkan gaji dari pekerjaan tersebut. Sehingga orientasi keduanya sudah jauh berbeda.

Kalau tulisan oleh Isti’anah Abubakar diatas menyatakan bahwa profesi guru tidak lagi digemari karena faktor ekonomi, maka hal itu benar sekali dan itu adalah konskuensi logis dari sistem yang diberlakukan di Indonesia saat ini.

Kesimpulanya beberapa faktor yang menjadikan profesi guru tidak lagi digemari masyarakat saat ini,

  1. Rendahnya kompetensi guru di Indonesia sesuai dengan pemaparan dalam tulisan Isti’anah Abubakar.
  2. Penerapan formalisasi sistem pendidikan Indonesia.
  3. b. Solusi

Pada dasarnya kami setuju dengan solusi yang ditawarkan Isti’anah Abubakar diatas, tetapi kami ingin menambahkan sedikit yaitu  perlunya sistem yang mendukung seorang guru untuk melakukan sifat-sifat qona’ah dan tebalnya komitmen. Dan sistem tersebut untuk saat ini yang paling realistis adalah dukungan total terhadap pondok-pondok pesantren. Dukungan tersebut bisa berupa penggalian atas khazanah-khazanah sistem pendidikan di pondok pesantren terlebih lagi pondok pesantren salaf yang keberadaannya sudah seperti lembaga pendidikan asing yang tidak menjanjikan apa-apa.

Sedikit tambahan bahwa ustadz-ustadz pondok pesantren sampai saat ini masih mendapatkan posisi yang tinggi di dalam masyarakat. Lebih khusus lagi ustadz-ustadz pondok pesantren salaf.

Kontributor

Luqman Ahsanul Karom, Jurusan Bahasa Inggris, FKIP, Universitas Universitas Islam Malang.

Sumber

Jurnal “El-Harakah” Vol V, Universitas Islam Negeri Malang





BUPATI CILACAP di hadapkan ke PENGADILAN

8 10 2009

Berkas Korupsi Bupati Cilacap ke Pengadilan UNDP Poster Antikorupsi yang diterbitkan United Nations Development Programme (UNDP) / Artikel Terkait: Probo Disoraki Warga Saat Dipindahkan ke LP Cilacap Dana Rp 10 M Diduga Dibagikan ke Para Pejabat Korupsi Simpedes, 5 Saksi Diperiksa Pejabat Cilacap Diduga Terlibat Penyimpangan Proyek Sekda Cilacap Tersangka PLTU Bunton Kamis, 8 Oktober 2009 | 16:07 WIB Laporan wartawan KOMPAS Madina Nusrat CILACAP, KOMPAS.com – Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah bersama Kejaksaan Negeri Cilacap melimpahkan berkas penyidikan tersangka korupsi Bupati Cilacap Probo Yulastoro dan Kepala Dinas Pengelola Keuangan Daerah Cilacap Fajar Subekti, kepada Pengadilan Negeri Cilacap, Kamis (8/10). Penyerahan berkas itu disertai pula sejumlah dokumen barang bukti berupa uang Rp 500 juta yang telah dititipkan di kas negara, dan sejumlah dokumen sertifikat tanah milik kedua tersangka senilai Rp 23 miliar. Penyerahan berkas dan dokumen barang bukti itu langsung dipimpin oleh Kepala Kejari Cilacap Yamin RS, yang diserahkan kepada Kepala PN Cilacap Sitompul. Hadir pula Asisten Pidana Khusus Kejati Jateng, Uung Abdul Syakur. Penyerahan berkas itu berlangsung dalam pengawalan ketat kepolisian karena dikhawatirkan akan ada sejumlah pihak yang menghalangi. Pengawalan ketat tampak di gedung Kejari Cilacap maupun PN Cilacap. Yamin mengatakan, kini pihaknya tinggal menunggu keputusan pengadilan menentukan jadwal persidangan. “Seluruh berkas sudah kami serahkan kepada PN Cilacap. Sekarang tinggal menunggu kapan pihak pengadilan mau menggelar sidangnya,” jelasnya. Sejauh ini, lanjutnya, Kejati Jateng telah menyiapkan empat orang jaksa dan Kejari Cilacap menyiapkan dua orang jaksa, sebagai tim jaksa penuntut umum kedua tersangka. Sebelumnya, Kejari Cilacap hanya menyiapkan seorang jaksa. “Kami memandang kasus ini perlu ditangani oleh tim jaksa yang memadai,” katanya. Probo bersama Fajar disangka telah mengorupsi dana insentif pajak bumi dan bangunan (PBB) tahun anggaran 2007 senilai Rp 12,6 miliar. Selain itu, Probo juga disangka telah mengorupsi dana kontribusi dari PT Pelabuhan Indonesia III Cabang Tanjung Intan Cilacap dan dana operasional koordinasi pengendalian pendapatan daerah Pemerintah Kabupaten Cilacap senilai hampir Rp 10 miliar. Kepala PN Cilacap Sitompul mengatakan, dalam pekan ini pihaknya akan memeriksa seluruh kelengkapan berkas penyidikan kedua tersangka. “Kalau masih ada kurang, tentunya perlu diperbaiki,” jelasnya. Oleh karena itu, dia mengatakan, belum dapat menentukan kapan kasus itu akan digelar dalam persidangan. Namun untuk persidangan nanti, lanjutnya, akan disiapkan tim pengaman dari kepolisian karena kasusnya memiliki minat publik yang cukup tinggi.





Riba Untuk Si Pemodal

21 05 2009

 Semua yang wujud dalam alam ini bergerak mengikut hukum alam. Manusia wujud melalui DNA. Bumi ini wujud kerana pertemuan, asakan dan pergumpalan pelbagai bentuk elemen kimia yang terpencar bersepah dalam udara hasil daripada Letupan Besar. Seperti besi berani yang akan terus menghala medannya ke utara, begitu juga hukum hukum alam ini tidak berubah-ubah. Manusia yang memiliki akal akan mencari dan menemui hukum-hukum ini. Penemuan hukum-hakam alam ini menjadikan asas kepada tamadun manusia. Hukum alam ini tidak akan beralih-alih. Hukum-hakam ini berkecuali, tidak memiliki nilai. Nilai baik atau jahat lahir daripada akal manusia. Madame Marie Curie menemui radium dan menemui cahaya X dalam uranium. Dia juga menemui hukum-hakam uranium. Ciri dan watak uranium tidak pernah berubah. Apabila ditemui ciri dan hukum-hakam uranium, maka akal manusia jugalah yang cuba mengubah hukum-hakam ini sehingga melahirkan bom atom. Kajian hukum-hakam algebra dan ilmu bintang oleh al-Khwarizmi di Baitul Hikmah, Baghdad di zaman Khalifah Al-Mamun berkembang hingga ke hari ini. Hukum ilmu bintang ini berkecuali – hanya kuasa imperial Anglo-Amerika yang menggunakan hukum ini untuk kebejatan dengan meletakkan senjata di atas langit. Kapitalisme juga bergerak mengikut hukum-hakam. Hukum pertama kapitalisme ialah: untuk mendapatkan keuntungan maksimum. Hukum ini tidak akan beralih-alih. Sama ada kapitalis ini Majusi, Yahudi, Nasrani atau Islam – hukum kapitalis tetap sama. Kapitalisme juga bergerak melalui hutang. Sistem kapitalisme akan runtuh jika hutang dan riba tidak wujud. Kepala jahat yang melahirkan hutang dan riba ini ialah bank. Justeru kita wajib memahami bagaimana bank mula bergerak untuk mendapat keuntungan maksimum. Sebelum kemunculan bank – di zaman kapitalisma kaum pedagang – emas adalah tukaran. Justeru, jika kita menyemak Sejarah Melayu, kita akan terbaca ufti yang dibayar kepada Raja Siam berbentuk Bunga Emas. Kita juga terbaca perkataan perak sebagai wang. Jika melawat musium, kita akan akan dapat melihat mata wang lama Alam Melayu – emas dan perak. Para saudagar yang berniaga akan mengupah tukang emas untuk membuat kepingan emas dan perak ini sebagai tukaran membeli-belah. Saudagar akan meninggalkan emas dan perak untuk disimpan ke dalam peti besi tuan kedai. Kepingan emas dan perak ini dijaga rapi. Sebagai tandanya, tuan kedai akan menulis di atas kertas jumlah emas yang tersimpan. Kertas ini cukup berharga. Sesekali si saudagar akan datang melihat emasnya yang tersimpan. Tuan kedai emas melihat bahawa surat yang ditulisnya telah diyakini umum. Keyakinan ini datang kerana tuan kedai bukan hanya menyimpan untuk seorang saudagar tetapi berbelas-belas. Jika ada si saudagar atau sesiapa yang datang untuk melihat emasnya, tuan kedai akan memperlihatkan emas-emas kepunyaan saudagar yang lain. Keyakinan bertambah. Dari sini hukum kapitalisme bergerak lagi. Contohnya, tuan kedai menyimpan 100 keping emas yang dimiliki saudagar Buluh Kasap. Jika disimpan, maka nilainya tidak bertambah. Justeru tuan kedai telah menulis 200 keping kertas untuk Buluh Kasap. Ertinya, ada seratus keping kertas lebih daripada 100 keping emas. Lebihan kertas ni menjadikan modal saudagar Buluh Kasap bertambah satu kali ganda. Kertas yang ditulis oleh tuan kedai ini diuar-uarkan sama dengan nilai emas yang tersimpan dalam peti besi tuan kedai – inilah asal-usul duit kertas atau bank note. Daripada pengalamannya, tuan kedai tahu bahawa para saudagar ini tidak semuanya akan datang serentak untuk melihat emas simpanan masing-masing. Justeru, dia boleh memutarbelitkan jumlah kepingan emas yang disimpan. Hukum keuntungan maksimum sistem kapitalis bergerak lagi. Kali ini tuan kedai bukan lagi mengeluarkan kertas kepada si penyimpan emas sahaja tetapi telah berani menjual kertas ini kepada sesiapa sahaja yang sanggup membayar untuk digunakan sebagai modal. Kertas yang dijual ini pastilah telah melebihi daripada jumlah emas yang tersimpan. Perkara ini tidak diketahui umum kerana tuan kedai menyimpan emasnya secara rashia – konon untuk menjaga kestabilan suasana perniagaan. Tuan kedai emas menjadi kaya dengan menjual kertas kosong yang tidak berasaskan emas. Justeru inilah asal-usul bank dalam sistem kapitalisme. Amat jelas bank bermula dengan pembohongan. Pembohongan ini menjadi kukuh kerana adanya keyakinan daripada orang ramai. Mereka yakin kerana melihat ramai saudagar telah menyimpan emas dengan tuan kedai. Tuan kedai emas ini juga dilihat hebat di kalangan masyarakat kerana memiliki rumah besar, isteri gemuk, makanan sedap, ada babu dan pengawal peribadi. Tuan kedai emas ini akhirnya menjadi pemilik bank. Gejala ini berlaku 500 tahun dahulu. Jika kita membaca karya Shakespeare, kita akan bertemu dengan si Mamat yang bernama Shylock tuan peminjam wang di kota Venice. Shylock ini watak pemilik bank 500 tahun dahulu. Hari ini watak, hukum-hakam dan ciri-ciri seorang pemilik bank tidak pernah berubah. Hutang wajib dibayar. Jika tidak, daging seketul wajib diagihkan. Hari ini, 500 tahun kemudian, asas hukum perbankan tidak pernah berubah tetapi cara pengendalian lebih tersusun. Orang awam selalu bertanya dari mana datangnya wang. Jawabnya: yang mencetak wang ialah bank. Caranya tidak jauh bezanya daripada amalan tuan kedai emas dahulu. Contoh: Ada sebuah bank bernama Bank Buluh Kasap yang memiliki modal sebanyak 100 ringgit. Bank ini mendapat pelanggan 10 orang yang menyimpan 100 ringgit seorang. Ertinya bank ini ada 1100 ringgit. Bank ini kemudian memberi pinjaman kepada 10 pelanggan baru. Setiap pelanggan dipinjamkan 200 ringgit. Lihat silap mata! Dari 100 ringgit modal asal, kini menjadi 2100 ringgit. Bank ini sebenarnya tidak memberikan pinjaman duit tetapi kredit. Tidak ada duit bertukar tangan – ini duit atas angin. Tuan punya bank seperti tuan kedai emas tahu bahawa tidak semua pelanggan akan datang serentak untuk mengeluarkan duit simpanan. Bank memungut bunga dan riba – yang dipanggil untung. Duit bunga ini akan terus dipusingkan untuk dipinjamkan lagi. Ertinya duit dalam sistem ekonomi kapitalis lahir daripada hutang dan bunga. Beginilah yang telah dilakukan oleh semua bank. Inilah caranya bagaimana duit muncul dalam pasaran. Sistem bank dalam ekonomi kapitalis bergerak mengikut hukum ini. Dalam masa yang sama, si peminjam diminta memberi cagaran – amalan ini untuk menjamin keuntungan kepada bank. Jika si pelanggan gagal membayar hutang, maka cagaran akan terlupus. Harus difahami bahawa bank membuat duit bukan melalui cagaran. Bank membuat duit dengan memberi orang berhutang. Cagaran hanya mainan silap mata untuk melahirkan keyakinan. Katakan pada hari Rabu minggu hadapan, semua pelanggan Bank Buluh Kasap ingin mengeluarkan duit – maka tertonggeng dan terkangkang Bank Buluh Kasap! Tidak ada duit sebenarnya dalam bank itu. Yang berpusing-pusing hanya kertas. Tertongeng dan terkangkang inilah yang sedang kita hadapi semenjak September 2008. Bank Northern Rock di Scotland tertonggeng apabila semua penyimpan datang beratur untuk meminta wang simpanan mereka – permulaan hilangnya keyakinan orang ramai terhadap bank. Orang ramai tidak yakin bahawa duit mereka akan selamat. Apabila orang ramai hilang keyakinan, maka silap mata bank akan kantoi. Orang ramai akan berbondong-bondong datang untuk mengeluarkan duit mereka. Bank yang pandai main silap mata kini tidak dapat melakukan apa-apa melainkan mengaku diri mereka bankrap – inilah yang sedang berlaku sekarang. Selama 30 tahun yang lalu, pelbagai bentuk mainan silap mata telah dilakukan oleh bank. Pemilik-pemilik ban ini telah mempengaruhi para ahli politik untuk melupuskan pelbagai larangan dan rintangan. Mereka memungut riba dan mengumpul harta. Dengan harta kekayaan yang terkumpul hasil daripada memakan riba, para pemilik bank telah memberi sumbangan kepada politikus. Persekongkolan ini cukup intim. Para pemilik bank ini tidak pernah muncul di khalayak umum. Tetapi kepentingan mereka terjamin melalui para politikus yang akan bersuara menjaga kepentingan mereka. Pada 2009, banyak bank telah muflis. Lalu timbul persoalan. Ke mana perginya duit-duit ini? Harta kekayaan tidak hilang, ia hanya bertukar tangan. Duit ringgit milik orang ramai yang tersimpan di bank telah dijadikan modal untuk membuat lebih banyak untung. Keuntungan ini disimpan. Penyimpan duit di bank boleh jatuh muflis, bank boleh diistihar bankrup tetapi tuan empunya bank tidak pernah bankrup. Ada pelangan akan kalah judi di Genting tetapi syarikat Lim Goh Tong sampai kiamat tidak akan bankrup – ini juga hukum sistem kapitalis.





Dimana uwang dunia di sembunyikan?

19 05 2009

 Kita diberitahu bahawa dunia sedang menghadapi masalah kecairan – artinya tidak ada duit dalam pasaran. Lalu kita bertanya ke mana agaknya segala duit yang terkumpul dalam dunia ini pergi. China, Jepun, Korea, Singapura, Taiwan dan termasuk Malaysia sendiri menyimpan duit-duit ini dalam bentuk kertas dolar Amerika. Wang yang tersimpan ini – menjadi wang simpanan negara – hasil kita berjual-beli dengan Amerika. China dan Jepun negara yang paling banyak menyimpan kertas dolar. Kertas dolar telah dipaksakan ke atas dunia ini oleh kuasa imperial Amerika Syarikat. Pemaksaan ini melalui dua cara. Pertama, Amerika telah membuat perjanjian 1972-74 dengan keluarga Saud bahawa semua jual-beli minyak wajib menggunakan kertas dolar kerana bahan bakar petroleum diperlukan oleh semua negara dengan Saudi pengeluar utamanya. Sebagai gantinya, kuasa imperial Amerika berjanji akan menjaga keselamatan keluarga Saud daripada dipukul oleh ombak rakyat. Kedua, dengan kekuatan bala tentera. Amerika mendirikan 702 pengkalan tentera di 130 buah negara dalam dunia ini. Tidak ada negara penjual minyak yang berani menjual minyak tanpa menggunakan kertas dolar. Saddam Hussein cuba mengalihkan kertas dolar sebagai mata wang jual-beli minyak. Jawapannya Saddam digantung mati. Iran sedang berusaha untuk beralih daripada kertas dolar, justeru segala bentuk sekatan sedang dilakukan ke atas Iran. Dari mana kertas dolar ini datang? Kertas dolar hanyalah kertas yang telah dipaksakan nilainya ke atas warga dunia. Ia dipanggil fiat money – nilai yang dipaksa. Tanpa paksaan ini dolar hanyalah kertas yang tidak memiliki apa-apa nilai. Justeru, kertas dolar adalah satu penipuan yang terunggul dalam sistem ekonomi kapitalis. Pada awalnya Amerika Syarikat sebuah negara revolusioner yang berdiri untuk menjaga kepentingan warga. Amerika mengeluarkan duit kertasnya sendiri. Amerika yang merdeka telah membebaskan diri daripada para pemilik bank yang telah lama bersarang di City of London. Tuan-tuan empunya bank merasa mereka kehilangan bumi permata apabila Amerika menjadi bebas dan merdeka. Lalu para pemilik bank menelurkan satu konspirasi untuk memaksa pentadbiran Amerika terus terikat dengan kepentingan mereka. Pada tahun 1913, setelah beberapa kali percubaan gagal, akhirnya para pemilik bank telah berjaya memaksa (atau menipu) Kongres untuk menerima dan meluluskan Akta Federal Reserve 1913. Ramai warga dalam dunia tersilap menyangka bahawa Federal Reserve ini adalah bank milik negara Amerika. Tidak betul. Federal Reserve ini bukan bank milik negara Amerika seperti Bank Negara kita di pinggir Jalan Kuching. Federal Reserve adalah bank swasta yang tuan pemiliknya dirahsiakan. Siapa ahli-ahli lembaga pengarah Federal Reserve ini juga dirahsiakan. Kongres hanya boleh menerima atau menolak dua nama yang akan dicadangkan oleh Federal Reserve. Justeru dunia hanya mengenali nama Alan Greenspan, pengerusi Federal Reserve yang lalu dan Ben Bernanke, pengerusinya yang terkini. Siapa yang lain di belakang tabir Federal Reserve ini tidak akan diketahui umum. Mengikut akta 1913 ini, pentabiran Amerika tidak lagi dibenarkan mengeluarkan mata wang sendiri. Mata wang untuk kegunaan negara Amerika hanya akan dikeluarkan oleh Federal Reserve. Jika kerajaan Amerika memerlukan dolar, maka kerajaan wajib meminjam daripada Federal Reserve – sama ada dengan menjual bond atau meminjam dengan bunga yang ditetapkan. Lihat bagaimana liciknya konspirasi para pemilik bank ini.Para pemilik bank ini mencetak kertas yang dipanggil dolar tanpa apa-apa asas. Kertas dolar ini akan dipinjam oleh kerajaan Amerika daripada Federal Reserve dan akan dibayar kembali dengan bunga. Duit membayar hutang dan riba ini datang daripada tenaga dan titik peluh rakyat Amerika. Melalui kertas kosong, para pemilik bank ini telah mencipta harta karun. Inilah punca yang sedang membawa huru-hara ke atas dunia hari ini. Mungkin ada yang menyangka – perkembangan ini di Amerika, apa sangkut pautnya dengan harga ikan di Pasar ? Sabar dahulu, biar saya terangkan sejelas mungkin. Hari ini perniagan tukaran mata wang dalam dunia ini semuanya diwajibkan menggunakan dolar. Semua simpanan bank-bank negara dalam dunia ini akan bersandarkan dengan kertas dolar. Ia telah dipaksakan oleh sistem kapitalis yang dikepalai oleh pemodal Anglo-Amerika. Para pemilik bank dan kaum pemodal ini telah mendirikan lembaga-lembaga kewangan dunia. Bank Dunia dan Tabung Kewangan Antarabangsa (IMF) menjadi dua lembaga hitam yang memastikan kertas hijau ini digunakan di seluruh dunia. Setiap negara akan dinilai kekuatan ekonominya bersandarkan dolar. Perniagaan antarabangsa semuanya menggunakan kertas dolar. Barang yang kita ekspot dan barangan yang kita impot semuanya dinilai dengah kertas hijau ini. Justeru, negara kita sendiri akan melihat rebah bangun ekonomi negara kita melalui perbandingan mata uwang dengan kertas dolar. Jika pembaca memahami apa yang saya tulis ini, maka amat jelas kelihatan bahawa umat manusia dalam dunia ini telah diperbodohkan dan ditipu oleh Federal Reserve, Bank Dunia dan IMF. Lalu kita menyoal diri kita sendiri: kenapa tidak dapat dilakukan sesuatu untuk membebaskan diri daripada sistem kapitalis global ini? Pertama, banyak rakyat Amerika sendiri kurang sedar silap mata dan tipu musliat yang dijalankan oleh Federal Reserve ke atas negara mereka. Rakyat dunia juga tidak sedar akan hal yang sama. Kedua, tidak ada sesiapa yang akan dapat memasuki Rumah Putih yang akan berani membocorkan rahsia ini. Lihat apa terjadi kepada Abraham Lincoln yang menentang para pemilik bank dan Central Bank (nama asal Federal Reserve). Presiden Lincoln yang berperang hampir jatuh muflis telah mencetak Lincoln Greenback Dollar tanpa meminjam daripada Central Bank. Lihat juga apa yang terjadi kepada John F Kennedy kerana cuba membocorkan konspirasi kaum pemodal ini. Ketiga, tidak ada sesiapa yang akan dapat menjadi ahli Kongres atau masuk ke Dewan Senat Amerika dengan agenda menentang Federal Reserve, menentang para pemilik bank dan kaum pemodal ini. Semenjak 1913, pemilik banker ini telah membuat jaringan, kabel dan kumpulan rahsia untuk memastikan kepentingan mereka dijaga oleh para politikus. Hari ini kabel rahsia para pemilik bank ini telah mempengaruhi semua cabang pentabiran di Amerika. Hasilnya, media tidak pernah dan tidak akan melaporkan ke akar umbi secara radikal rancangan jahat para pemilik bank dan kaum pemodal ini. Enam puluh tahun dahulu masih terdapat 86 buah syarikat media yang besar dalam dunia ini. Ketika itu, media cetak masih lagi bergerak bebas. Hari ini yang tinggal hanya enam buah syarikat – ViaCom, General Electric, Disney, NewsCorp, Times Warner dan CBS – yang memiliki pelbagai bentuk media. Syarikat-syarikat media ini pula dimiliki oleh para pemilik bank. Malah jika menyelidik dengan rapi, kita akan menemui bahawa modal-modal ini juga telah meresap masuk ke dalam industri media tempatan kita. Yang menyusun dan merancang semua ini adalah kabel-kabel rahsia seperti Freemason, Bohemian Grove, Bilderberg Group, Skull dan Bones – semuanya terpusat di bawah satu atap yang dikuasai oleh pemodal dan pemilik bank yang sedang merancang untuk memunculkan satu Order Baru Dunia. Di belakang semua ini, nama-nama seperti Rothschild, Rockefeller and Morgan. Mereka ini berkumpul di bawah payung organisasi yang dipanggil Illuminati. Susuk-susuk yang kaya-raya ini tidak pernah muncul menunjukkan muka mereka. Kabel rahsia ini telah memunculkan muka-muka yang boleh dikenali oleh dunia seperti Henry Kissinger, Zbigniew Brzezinksi dan Lord Carrington. Mereka ini dianggap sebagai jurufikir yang berkumpul di bawah Council of Foreign Relation di Amerika dan Royal Institute of International Affairs di United Kingdom. Lembaga jurufikir seperti NGO ini akan menjemput malaon dari dunia ketiga yang bercita-cita untuk menjadi presiden atau perdana menteri. Tugas badan pemikir ini ialah mentafsir dan menilai malaon-malaon dari dunia ketiga ini. Penilaian bukan berdasarkan apa yang ada di antara dua telinga maloan-malaon ini tetapi sama ada mereka ini akan bersedia untuk menjadi boneka yang setia untuk menjalankan dasar yang diperlukan oleh kabel rashia ini. Justeru, kita lihat apabila dasar penswastaan dianjurkan, maka semua malaon yang telah dilantik menjadi barua di dunia ketiga akan menjalankan dasar yang sama. Apabila dasar globalisasi diperkenalkan, maka malaon-maloan ini seperti burung kakaktua akan turut bersuara. Jika ada malaon ini yang cuba melawan seperti Noriega dari Panama atau Saddam, maka dengan sekelip mata mereka akan dilupuskan. Jika maloan ini sudah selesai tugasnya seperti Suharto, Marcos, Lol Nol atau Zia ul Haq, mereka akan diketepikan untuk malaon yang baru naik. Semua ini dirancang. Tidak ada yang berlaku tanpa perancangan. Hari ini sebenarnya tidak ada masalah kecairan. Apa yang berlaku, peralihan harta dan wang ringgit warga dunia masuk ke tangan para pemilik bank ini. Dolar yang terkumpul hari ini melebihi 17 trilion dolar. Dolar, emas dan pelbagai mata wang ini tersimpan di 27 buah negara pulau yang memiliki bank pesisir pantai. Negara seperti Bermuda, Cook Islands, Switzerland, Luxumbourg, Cayman Island dan termasuk Labuan adalah tempat tersoroknya harta ini. Buat ketika ini, di sinilah harta kekayan dunia sedang bersemayam.





Musliat Di Sebalik Kekayaan

18 05 2009
Kita sadar dan kita kena tau bahwasanya
 
Harta kekayaan datang daripada keringat manusia. Harta Qarun sekali pun terkumpul daripada hasil tenaga manusia. Menang loteri juga berpunca daripada duit manusia yang telah ditipu. Justeru semua harta kekayaan di duna ini hasil tenaga kerja manusia.

Sejarah dunia ini ialah sejarah manusia membuat pekerjaan. Tidak ada harta terpijak.

Tulang dan otak manusialah yang melahirkan dunia yang kita lihat hari ini. Semua kebaikan dalam dunia ini adalah hasil perbuatan manusia. Semua kebejatan dan kerusakan alam ini juga hasil kerja tangan manusia.

Apabila manusia bekerja, dia melaburkan tiga perkara asas: tenaga, masa dan fikrah. Tiga perkara inilah yang menjadi asas ekonomi. Dari Zaman Batu, ke Zaman Gangsa, ke Zaman Wap, ke Zaman Elektrik, ke Zaman Nuklear hingga ke Zaman Internet hari ini – yang menjadi asas ekonomi masih lagi tiga perkara ini.

Semua harta kekayaan – dalam apa sahaja bentuk – yang dimiliki oleh sesiapa pun tidak dapat tidak berpunca daripada tiga asas ini.

Pak Tani ke sawah, dia membanting tulang, menghabiskan masa dan tenaga untuk menghasilkan padi dan beras. Dia menggunakan akal fikiran untuk mencari masa dan ketika yang baik untuk menyemai, mengubah, merumput dan menuai padi.

Pak Cik Felda bertungkus-lumus menanam sawit, membaja pokok, memotong buah dan mengumpul buah. Pak Cik Felda juga menggunakan akal fikiran tentang cara terbaik untuk membaja, memangkas pokok dan memilih buah.

Tiga pekara ini tidak akan lari sebagai asas ekonomi – masa, tenaga dan fikiran.

Jika sesiapa yang telah membaca buku The Godfather tulisan Mario Puzo akan bertemu dengan ayat “di belakang semua kekayaan ialah jenayah”. Kata-kata ini ada unsur-unsur kebenaran.

Semua manusia yang kaya-raya di dunia mendapat harta kekayaan  hasil daripada merampas – tenaga, masa dan fikiran orang lain.

Taukeh atau juragan yang membeli padi dari Pak Tani akan membelinya dengan harga yang murah. Artinya tok peraih membeli dengan harga yang tidak setimpal dengan nilai masa, tenaga dan fikiran Pak Tani. 

Juragan akan menjual padi ini sekali lagi dengan harga yang tinggi – ini dipanggil untung. Untung ini sebenarnya nilai lebihan hasil daripada tenaga, masa dan buah fikiran Pak Tani yang menanam padi.

Padi yang telah menjadi beras ini akan bertukar tangan sehingga sampai kepada pengguna. Dalam perjalanan dari sawah ke meja makan – orang-orang tengah ini menokoh tambah nilai harga tenaga asal titik peluh Pak Tani.

Si pabrik, pembungkus, si pengangkut, si pengiklan dan si Pengecer – semua ini orang tengah yang hidup kaya-raya di atas titik peluh Pak Tani.

Orang-orang tengah ini berlegar-legar memuter-muter perniagaan untuk mendapat keuntungan maksimum. Justeru, pabrik beras jadi kaya, pengedar beras jadi kaya atau pembekal beras jadi kaya.

Jangan terperanjat ada di antara peniaga beras – di bursa saham Wall Street New York atau City of London – tidak pernah melihat sawah dan padi tetapi mereka kaya-raya berniaga padi dan beras.

Yang terus miskin, Pak Tani. Inilah satu contoh dalam sistem ekonomi kapitalis apabila harta kekayaan boleh dibuat dengan menggunakan tenaga, masa dan fikiran orang lain.

Mekanisme yang dikatakan menilai harga padi dari Pak Tani digelar “pasaran” atau market – sebenarnya satu pembohongan.

Pasaran ini dikawal oleh tuan-tuan pemodal sendiri , si pengedar, si pembekal – semuanya memiliki persatuan yang menjaga kepentingan mereka.

Dengan modal besar yang terkumpul mereka mengawal harga untuk memastikan mereka terus mendapat keuntungan maksimum. Mereka memastikan harga padi atau apa sahaja yang mereka beli akan terus murah dan manakala harga beras atau apa sahaja yang mereka jual untuk pengguna akan terus mahal.

Pak Tani telah dipisahkan dari orang yang ingin membeli beras. Ruang pisah ini telah dimasuki oleh orang tengah atau lintah darat yang kerjanya hanya mengaut untung. Untuk mengindah muka buruk si lintah darat ini mereka memanggil diri mereka dengan gelar-gelar yang baik: Ahli perniagaan, usahawan, pemaju, pengimport, pengeksport atau pengedar.

Hakikatnya mereka hidup di atas usaha orang lain.

Kita juga selalu melihat, membaca atau mendengar ada sang kontraktor atau sang pemaju menjadi kaya-raya. Bukan pula bermakna si pemaju ini hebat, bijak atau dia berjemur dalam panas terik mentari membanting tulang.

Apa yang lakukan oleh si pemaju ialah mencari tenaga kerja buruh termurah. Kerana itu di Malaysia  mengimport buruh dari luar negara untuk membayar upah tenaga kerja dengan murah.

Kita panggil ini gaji. Gaji ialah pertukaran masa, tenaga dan fikrah si buruh yang membuat kerja. Jumlah duit yang dibayar untuk pertukaran ini akan dinilai oleh si pemaju. Si pemaju sama seperti tok peraih akan menilai masa, tenaga dan fikrah buruh ini dengan nilai yang terendah.

Gaji yang murah akan menjanjikan keuntungan yang lebat untuk si pemaju. Justeru si pemaju binaan tidak akan mengambil buruh dari New Zealand atau Sweden – tidak mungkin.

Mereka mengambil dari Indonesia, Burma dan Nepal.

Harus kita sedari bahawa seorang buruh Sweden keupayaan kerjanya sama dengan buruh dari Nepal atau Indonesia. Tetapi ada perbezaan bayaran. Perbezaan bayaran ini untuk memastikan si pemaju mendapat keuntungan yang maksimum. Rumah atau bangunan yang didirikan oleh tenaga buruh dari Indonesia atau Nepal dapat dijual dengan keuntungan lebih banyak.

Keuntungan berlaku kerana tukaran tenaga, masa dan fikrah itu tidak setimpal dengan nilai tenaga pemburuhan itu.

Justeru terbukti si kontraktor dan pemaju jadi kaya-raya bukan kerana mereka hebat tetapi kerana mereka hidup mengumpul titik peluk dan tenaga beratus-ratus kaum buruh yang kemudiannya dijadikan keuntungan dan modal. Lagi ramai tenaga buruh yang digunakan lagi besar modal yang dapat dikumpulkan.

Jika kita telah memahami asas dari mana punca modal dan keuntungan datang, maka amat senang untuk kita memahami kenapa pula negara-negara Dunia Ketiga – Asia, Afrika dan Latin Amerika terus miskin dan susah.

Dari sini kita juga akan faham kenapa Eropah, Jepun, Amerika Syarikat, Kanada dan Australia terus menjadi kaya dan dapat mengumpulkan modal untuk warga mereka hidup lumayan.

Dalam konteks ekonomi kapitalis global, semua negara Dunia Ketiga tarafnya samalah seperti Pak Tani dan Buruh Imigran. Malaysia, Singapura dan China ini adalah buruh-buruh imigran. Thailand, Cina, Indonesia, Vietnam adalah Pak Tani yang mengeluarkan makanan.

Hasil dari sistem ini, warga di Asia, Afrika dan Latin Amerika terus hidup dalam kemiskinan. Tenaga, masa dan fikrah warga di negara-negara ini dinilai dengan rendah, justeru upah untuk masa, tenaga dan fikrah mereka amat sedikit.

Dalam sistem kapitalis ini, yang mendapat kekayaan adalah kaum pemodal antarabangsa yang berpusat di New York, Paris dan London. Kaum pemodal antarabangsa ini mengajukan kepada kita semua agar menggunakan sistem ekonomi kapitalis yang telah mereka cipta.

Warga Asia, Afrika dan Latin Amerika ditaburkan dengan pelbagai tipu helah dan paksaan agar menerima sistem ekonomi kapitalis tanpa apa-apa pilihan. Kaum pemodal Anglo-Amerika mengatakan bahawa tidak ada sistem ekonomi yang lain melainkan sistem kapitalis. Kenyataan ini bohong.

Jadi dalam konteks ekonomi kapitalis global, kita di Malaysia dilihat sebagai buruh imigran oleh kaum pemodal Anglo-Amerika. Justeru, buruh imigran tidak memiliki banyak hak. Buruh imigran ini selalu ditakut-takutkan dengan pelbagai undang-undang dan akta.

Mereka tidak ada kesatuan yang ampuh untuk memperjuangkan hak mereka.

Buruh imigran ini tidak mungkin akan dapat mengubah dan memperbaiki hidup dalam sistem yang ditaja oleh tuan empunya modal atau pabrik. Sebagai buruh pabrik, kita akan terus mendapat gaji yang rendah.

Kita tidak akan memiliki kualiti kehidupan yang lumayan untuk kita memperluaskan keupayaan diri sebagai insan untuk membuat kebaikan. Malah kita juga dilarang untuk berilmu dan berfikiran bebas.

Seperti Pak Tani di pedesaan yang hidup mereka akan berterusan dalam kemiskinan kerana tok peraih beras dan tuan punya penggiling beras tidak akan membenarkan Pak Tani ini faham akan susur-galur perjalanan sekampit padi itu.

Pemodal-pemodal antarabangsa di bursa saham Wall Street dan City of London tidak akan membenarkan Pak Tani dan Buruh Kilang mengubah cara urus niaga ini. Mereka menyediakan mandor-mandor yang ganas untuk memastikan sistem ekonomi ini berterusan. 

Mana mungkin pengedar, sang pemaju dan para mandor ini mahu berubah sistem kerana sistem kapitalis ini telah memberi mereka keuntungan maksimum dan modal yang melimpah tanpa mereka membanting tulang bekerja.





PENGETAHUAN

11 03 2009

DARI FISIKA KE MANA-MANA Oleh: Jansen H. Sinamo SATU dekade ke depan, manusia terkaya di dunia boleh jadi bukan lagi Bill Gates. Calon penggantinya bukan seorang computer nerd atau venture capitalist, melainkan fisikawan muda jenius bernama Stephen Wolfram. Ia baru saja menggemparkan jagat keilmuan dengan menerbitkan dan meluncurkan sendiri magnum opusnya setebal 1.200 halaman lebih berjudul A New Kind of Science (ANKS). Menurut sejumlah pembaca awal di situs Amazon.com, buku ini dalam magnitude dan gaya provokasinya dianggap setara dengan The Origin of Species-nya Charles Darwin dan Das Kapital-nya Karl Marx. Yang luar biasa, Wolfram juga wirausahawan tulen yang piawai memasarkan dan menjual temuan-temuannya ke dunia bisnis yang makin knowledge intensive. Sebagai multijutawan dollar barangkali ia merupakan ilmuwan terkaya di dunia. Dengan kekayaan itu, ia mendanai sendiri riset-risetnya sambil menjadi CEO bagi perusahaannya dengan ratusan karyawan. Dalam komunitas fisika, sejumlah tokoh tak ragu mengatakan kehebatan Wolfram setara dengan…dewa-dewa terpenting fisika seperti Galileo, Newton, dan Einstein. Jika Galileo dikenang dengan Teori Pergerakan Planet, Newton dengan Teori Gravitasi, dan Einstein dengan Teori Relativitas, maka Wolfram dengan Cellular Automata. Dengan perkakas ini, Wolfram mengklaim dapat memecahkan semua problem fisika abad ke-20 yang sampai kini masih misterius seperti soal relasi gaya-gaya elektromaknetik dan gravitasi. Dengan demikian cellular automata boleh jadi akan memenuhi impian suntuk Einstein- yang tak kesampaian hingga akhir hayatnya-akan adanya teori gabungan (unified theory of everything) yang mampu menjelaskan semua fenomena alam dan kosmos itu sendiri. Namun, cellular automata lebih ambisius dari impian tertinggi Einstein. Bukan saja di bidang fisika, perkakas Wolfram ditengarai dapat menjelaskan serta memecahkan berbagai masalah fundamental dalam biologi, matematika, kimia, computer science, bahkan wilayah-wilayah lain yang secara tradisional dianggap di luar pengaruh fisika seperti sosiologi, psikologi, ekonomi, juga teologi, seni, dan filsafat. *** APAKAH cellular automata itu? Sederhananya, cellular automata adalah sehimpunan proses fundamental peciptaan pola-pola keteraturan dengan menggunakan komputer (computer-generated ordering process) yang bentuk akhirnya sangat menyerupai apa yang terjadi di alam. Program komputer Wolfram ini mengambil input data yang tidak teratur (bahkan chaos), lalu diproses menggunakan sejumlah Aturan Wolfram, dan akhirnya menghasilkan output gambar yang sangat mengagumkan baik pola, kompleksitas, maupun derajat keteraturannya di layar komputer. Dalam bukunya yang dipenuhi ratusan gambar itu, Wolfram menunjukkan proses terciptanya berbagai bentuk pola-pola yang kompleks seperti kristal es, bunga-bungaan, dedaunan, sebaran warna-warni bulu burung merak, spiral galaksi, turbulensi air deras, jaringan sirkuit otak manusia, badai topan, kulit kerang, lekak-lekuk sungai, pokoknya berbagai macam bentuk output dari sistem operasi alam semesta. Wolfram berpendapat bentuk-bentuk yang dihasilkan oleh cellular automata itu bukan sekadar replika kebetulan dari fitur-fitur yang ditemui di alam, tetapi sekaligus dapat menjelaskan bagaimana alam bekerja pada tingkat paling fundamental. Karena itu, Wolfram tak ragu berpendapat, program cellular automata akan menjadi metoda paling ampuh yang dikenal umat manusia hingga kini, untuk memecahkan rahasia alam, sekaligus menjelaskan arsitektur jagat raya dan evolusi segenap bentuk kehidupan di dalamnya. Wolfram bahkan menengarai semesta alam ini tidak lain adalah sebuah mahakomputer alami yang berperilaku sebagai sebuah super cellular automata. Di tingkat praktis, tidak saja celluar automata akan merevolusi jagat sains secara radikal, tetapi Wolfram juga menjanjikan terbukanya pintu gerbang lebar bagi lahirnya sejumlah besar teknologi baru dalam waktu segera seperti komputer kuantum, supermikroteknik pada skala atom, desain serta reparasi bagian-bagian jaringan dan organ tubuh, materi baru, dan obat-obatan baru yang lebih ajaib khasiatnya. Sungguh fantastis! *** SIAPA gerangan sang jenius ini? Lahir tahun 1959 di London, Stephen Wolfram adalah a new kind of physicist. Ketika masih sekolah menengah di Eaton, Inggris, ia belajar sendiri fisika tingkat tinggi pada usia 12 tahun. Saat umurnya baru 15 tahun makalahnya di bidang fisika teori sudah muncul di jurnal fisika. Tak betah belajar dari guru dan dosen–menurut dia terlalu lamban–ia lalu melahap berbagai buku teks kelas berat ketika teman seusianya masih sibuk bermain Halloween dan bercinta monyet. Pertama kali kuliah di Oxford, ia masuk semester satu. Sangat tidak menarik baginya, ia langsung menghadiri kuliah semester enam. Juga tidak cukup menarik, ia lalu memutuskan tidak pernah masuk kelas lagi. “Saya dapat mengetahui berbagai hal jauh lebih cepat dan lebih mendalam dengan membaca daripada mendengar dosen ngomong,” begitu alasannya menyebut kuliah sebagai kegiatan buang waktu. Hebatnya, ia mampu menghasilkan puluhan makalah di bidang kosmologi dan fisika partikel yang dimuat pada jurnal-jurnal fisika kelas tinggi. Tidak sampai tamat S1 dari Oxford, ia langsung direkrut oleh raksasa fisika peraih Hadiah Nobel dari California Institute of Technology (Caltech), Murray Gell-Man, tahun 1978. Wolfram langsung masuk program doktor. Di kampus ini, di mana Richard Feynman, fisikawan legendaris lainnya bermukim, Wolfram juga tampak kurang tertantang. Agar ia betah, maka program doktor khusus diberikan padanya. Dalam tempo setahun saja, ia mendapat PhD pada usia 20 tahun tanpa harus membuat disertasi, tetapi cukup membundel ulang enam makalah terbaiknya. Pergaulan intelektual tingkat tinggi antara doktor remaja Wolfram dengan fisikawan dewa sekelas Feynman dan Gell-Man hanya sanggup membuatnya kerasan selama 10 tahun di Caltech. Akhirnya ia bentrok juga dengan administratur institut itu perihal komersialisasi temuan-temuannya. Di usia 31 tahun, ia diterima di kampus Einstein yang legendaris, the Institute for Advanced Studies di Princeton. Wolfram tercatat sebagai anggota termuda institut itu sepanjang sejarah. Tapi, kampus penelitian paling bebas di dunia ini pun ternyata tidak sanggup menyediakan ruang bagi kebebasan gerak dan independensi intelektual yang dituntut Wolfram. Akhirnya tahun 1986 ia mendirikan Wolfram Research Inc., institusi penelitian pribadinya. Di sinilah ia menggabungkan bisnis dan riset secara bebas yang berpuncak pada lahirnya mahakarya TNKS yang menggemparkan itu. Dalam rangka mengembangkan TNKS, Wolfram harus pula mengarang Mathematica–sebuah sistem software yang digunakan untuk keperluan komputasi teknikal dan pemrograman simbolik (symbolic manipulation programming)– terlebih dahulu, yang sama raksasa bobotnya dengan TNKS itu sendiri. Ini persis seperti Newton yang harus mengarang dulu kalkulus diferensial agar bisa menjelaskan gravitasi dan Einstein yang harus mengonstruksi dulu sebuah aljabar empat dimensi agar bisa menjelaskan relativitas. Bedanya, kedua pendahulu Wolfram itu cuma ilmuwan murni yang hidup dari dana negara sedangkan Wolfram sekaligus entrepreneur kawakan yang jago mencetak duit gede dalam setiap langkahnya menuju puncak sains tertinggi. *** KISAH Wolfram tampaknya tak pernah dibayangkan orang ketika memikirkan fisika. Bagi awam, fisika adalah ilmu esoteris yang tak jelas manfaat praktisnya. Sarjana fisika biasanya kere tak berduit. Pekerjaan mereka paling-paling jadi dosen atau penelitu. Otak mereka dipenuhi atom-atom, galaksi-galaksi, dan persamaan-persamaan matematika yang eksotis, tetapi kantung mereka enggak gaul. Wacana mereka serba makro tapi dompet super mikro. Konon Einstein sendiri pun pernah mengatakan, “Science is a wonderful thing if one does not have to earn one’s living at it.” Alhasil, citra fisikawan memang jauh dari menarik. Sampai hari ini pun fisika tidak pernah menjadi pilihan utama bagi kebanyakan mahasiswa cerdas namun tetap ingin hidup keren berkecukupan. Sekitar tiga dekade lalu, jurusan fisika ITB bahkan harus menawarkan beasiswa bagi siapa saja yang bersedia masuk fisika jika lulus ujian masuk. Banyak input jurusan fisika saat itu merupakan mahasiswa kere. Sebagian lagi, terjebak oleh citra di atas, lalu hengkang dan testing ulang ke jurusan teknik. Memang ada juga minoritas yang hebat otaknya, termotivasi oleh the beauty of physics itu sendiri, menganggap mencari duit sebagai kegiatan yang inferior, memutuskan mendalami fisika sampai ke sumsum. Namun, makhluk seperti ini dianggap aneh oleh masyarakat. Orangtua pun biasanya tidak mengizinkan anaknya memilih fisika. Bahkan, seorang ibunda Evelyne Mintarno pun, yang anaknya berhasil menjadi satu-satunya peserta putri dari Indonesia dalam Olimpide Fisika 2002 di Bali, belum merelakan putrinya memilih fisika karena terbelenggu anggapan fisikawan hanya bisa jadi guru. Padahal putrinya yang hebat itu, selain meminati sungguh fisika sudah diterima di universitas bergengsi, Stanford. (Kompas, 24/7) *** KIPRAH para fisikawan sesungguhnya tidaklah sesempit menjadi dosen saja. Ilmu fisika yang selalu terobsesi dengan perkara-perkara fundamental, perumusan dan pemecahan masalah secara elegan, dengan disiplin berpikir yang rigor konseptual, sebenarnya lebih dari cukup sebagai bekal hidup penuh makna, termasuk hidup makmur kalau mau. Sisanya adalah minat, ambisi, dan etos kerja. Selain menjadi peneliti dan guru, banyak sarjana fisika Indonesia akhirnya menjadi eksekutif bisnis (seperti Harianto Mangkusasono dan Charlo Mamora, terakhir keduanya menjadi konsultan pengembangan dan transformasi bisnis), rohaniwan (seperti Pater Drost), ekonom (seperti Rizal Ramli dan Umar Juoro, meskipun keduanya tidak menamatkan fisika), dan terbanyak menjadi profesional di berbagai bidang (misalnya IT, perminyakan, elektronika, otomotif, pers, SDM, pertambangan, perbankan) termasuk menjadi wiraswastawan. Intinya, dari fisika orang bisa ke mana-mana, tergantung minat, stamina juang, dan sekali lagi etos kerja. Ke depan, seiring dengan munculnya fenomena Wolfram di atas, dapat diharapkan semakin banyak orang-orang muda yang terinspirasi menjadi fisikawan-hartawan. Mengapa tidak? Dalam dunia di mana kapitalisme global semakin meraja, semakin diperlukan sumbangan berbagai jenis inovasi berbasis fisika untuk menciptakan business value yang hebat-hebat. Wolfram membuktikan, meraih kemakmuran tidak berarti mengorbankan ilmu, atau sebaliknya, berilmu tinggi tidak harus jadi miskin. Wolfram mendemonstrasikan sebuah paradigma baru. Menjual fisika untuk uang, dengan uang mendanai riset fisika, dan dengan uang cukup mampu memperoleh independensi berkarya, dengan sebuah efek samping yang tak kalah menarik: hidup enak dan berkecukupan. Salah satu problem besar fisikawan murni Indonesia (ilmuwan berbasis universitas umumnya) ialah mengotakkan diri dalam ruang sempit penelitian. Mengemis dana penelitian dari birokrat yang tak paham penelitian, lalu mendapatkan dana superkecil dari anggaran negara yang memang tak peduli penelitian, kemudian dipotong sana-sini oleh oknum siluman. Maka, jadilah penelitian jejadian. Hasilnya? No money, no science, no dignity! Saya setuju dengan pendapat Rektor ITB Kusmayanto Kadiman, bahwa ITB belum saatnya disebut a research university. Meskipun ada kontroversi di balik kisah Wolfram di atas, satu hal positif sudah jelas, ilmuwan jenis baru harus mampu menggabungkan tiga peran sekaligus: peneliti, marketer, dan eksekutif. Saat negeri ini carut-marut dan tak punya uang, semakin absurd rasanya mengharapkan dana riset dari negara. Mungkinkah para ilmuwan kita meniru gaya Wolfram mencetak uang dengan dan dari ilmu mereka? Tantangan ini lebih relevan buat Indonesia, karena metoda favorit dalam mencari uang yang dipakai para pemegang kekuasaan di lembaga-lembaga negara kita–seperti diberitakan koran tiap hari–ialah main injak dan terkam kaya Ken Arok. Padahal kata orang, kini era knowledge economy, di mana wealth creation akan lebih mengandalkan kreativitas, inovasi teknologi, dan pengetahuan intensif seperti didemonstrasikan Bill Gates dan Stephen Wolfram; dan bukan tanah, ternak, atau mesin, let alone brute power. Kalau ilmuwan-ilmuwan kita masa kini tidak bisa berkiprah lain daripada apa yang lazim dan zalim di masa lampau, tampaknya satu- satunya harapan kita ialah pada tunas-tunas belia yang bertarung di Olimpiade Fisika minggu lalu. Untuk mereka, selamat dan semoga jaya. Untuk panitia dan tim pelatih, terima kasih atas visi, kontribusi, dan dedikasi Anda. *) Artikel ini dimuat di Harian KOMPAS, Edisi Senin, 29 Juli 2002





DIRGAHAYU NEGRIKU

3 08 2008

Dirgahayu dan HUT Ke-63 RI

Suasana heroik itu kembali tercium di sekeliling kita. Sosok pahlawan seperti terpampang jelas dalam layar memori kita. Betapa untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan butuh pengorbanan; air mata dan darah. Sudah tak terhitung roh para pendahulu negeri yang telah bersemayam dalam pundi-pundi sejarah keabadian. Setahun sekali, ya, seolah-olah hanya setahun sekali, roh mereka kembali kita hadirkan, untuk memberikan sugesti dan membangkitkan etos kebangsaan di tengah tumpukan persoalan yang multikompleks dan super-rumit. Padahal, sejatinya pahlawan tak pernah mati. Roh mereka akan selalu hadir di setiap ranah ruang dan waktu.

Terlepas dari kompleks dan rumitnya persoalan-persoalan kebangsaan, agaknya memang kita masih butuh mewujudkan nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme itu secara fisik. Bukankah selama ini memang kita masih lebih suka menilai sesuatu dari tampilan fisik daripada esensi dan substansinya? Bukankah selama ini memang kita cenderung masih “memberhalakan” hal-hal yang bersifat lahiriah ketimbang rohaniah?

MERDEKA !!!! Ketika Agustus hadir, kita memang masih membutuhkan simbol-simbol lahiriah. Kita masih sangat merindukan Sang Saka Merah Putih dan umbul warna-warni semarak berkibar di setiap sudut jalan yang kita lalui. Kita masih butuh upacara-upacara, pawai dan karnawal, malam tasyakuran alias tirakatan, lomba-lomba dan pertandingan, bahkan kita juga masih sangat membutuhkan spanduk, slogan, dan semboyan.

Coba perhatikan slogan dan semboyan berikut ini!

DIRGAHAYU KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
SELAMAT HUT RI KE-63
DIRGAHAYU HUT RI KE-63

MERDEKA! Ketika Agutus-an tiba, semboyan itu dengan mudah kita temukan dalam spanduk di pinggir-pinggir jalan, gapura masuk kampung, di depan kantor instansi pemerintah, atau organisasi kemasyarakatan lainnya. Sekilas memang tidak ada yang salah dengan semboyan-semboyan heroik itu. Namun, jika kita cermati, sebenarnya ada kerancuan logika.

Kata “dirgahayu”, baik menurut Kamus Besar versi cetak maupun online (KBBI Daring), mengandung arti: “berumur panjang (biasanya ditujukan kepada negara atau organisasi yg sedang memperingati hari jadinya): – Republik Indonesia, panjang umur Republik Indonesia”. Beranjak dari batasan ini, penggunaan semboyan “Dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia” jelas rancu. Telah terjadi kekeliruan bernalar di situ, karena sebenarnya yang ingin kita berikan ucapan “panjang umur” adalah Republik Indonesia, bukan pada kemerdekaannya. Dengan demikian, semboyan yang benar mestinya “DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA” yang mengandung arti “panjang umur Republik Indonesia.

Ucapan “SELAMAT HUT RI KE-63” pun juga mengalami kerancuan yang sama, terutama pada penggunaan kata bilangan tingkat “ke-63” setelah kata “RI”. Republik Indonesia, jelas hanya ada satu. Namun, secara tidak langsung, kita telah membuatnya menjadi RI ke-61, RI ke-62, atau RI ke-63. Ucapan tersebut akan lebih jelas dan bermakna jika diubah menjadi “SELAMAT MERAYAKAN HUT KE-63 RI”.

Jika ingin digabungkan dengan kata “dirgahayu” akan lebih efektif jika diubah menjadi: “SELAMAT MERAYAKAN HUT KE-63: DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA”. Semboyan tersebut lebih efektif daripada “DIRGAHAYU HUT RI KE-63” yang mengandung arti: “panjang umur hari ulang tahun RI ke-63”. Makin rancu, bukan? Penggunaan awalan “ke-“ (diikuti tanda penghubung) pun idealnya mengacu pada Ejaan yang Disempurnakan (EYD). Jika menggunakan angka romawi, awalan “ke-“ tidak diperlukan lagi, sehingga menjadi: “SELAMAT MERAYAKAN HUT LXIII: DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA”.

Merdeka!