KONSEP KEPRIBADIAN GURU

23 10 2009

Dosen Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang (UIN) Malang

 

  1. A. Pendahuluan

Guru merupakan profesi yang mengalami pasang surut dalam percaturan dunia keprofesian. Kalaulah dulu guru dianggap profesi sakral, membanggakan yang terlihat ketika dengan bangganya seorang yang bermantukan seorang guru, tapi saat ini disinyalir menjadi profesi yang termarginalkan. Ini terlihat dari banyaknya generasi penerus yang sedikit bercita-citakan seorang guru. Mereka cenderung menjadikan dokter, insinyur, pilot sebagai pilihan profesi di masa depan. Ada berbagai macam alasan yang dikemukakan akibat ketidakmauan mereka, namun yang jelas kesejahteraanlah yang menempati urutan pertama bagi seseorang untuk tidak memilih guru sebagai profesinya.

Fenomena di atas disebabkan adanya pergeseran dalam memaknai profesi seorang guru. Pergeseran ini disebabkan beberapa faktor, baik faktor eksternal maupun faktor internal. Faktor eksternal diantaranya:

  1. Adanya sebagian pandangan masyarakat bahwa siapapun dapat menjadi guru asal dia berpengetahuan.
  1. Kekurangan guru di daerah terpencil memberikan peluang untuk mengangkat seseorang yang tidak mempunyai keahlian (mendidik) untuk menjadi guru.
  1. Banyak guru yang belum menghargai profesinya apalagi berusaha mengembangkan profesinya tersebut.

Sedangkan faktor internal yang dimaksud adalah adanya kelemahan yang terdapat pada diri guru itu sendiri diantaranya rendahnya kompetensi profesional mereka.

Kesemuanya itu telah menjadi wacana umum yang terus dicari pemecahannya, terutama di akhir 2005 dengan akan disahkannya UU profesi guru dan dosen. Namun demikian perlu disadari bersama, bahwa UU tersebut bukan satu-satunya solusi yang dapat mendongkrak popularitas profesi guru. Naiknya popularitas guru hanya akan terjadi bila guru secara pro aktif meningkatkan kapasitasnya sebagai guru. Artinya, UU tersebut tidak akan berdaya guna secara maksimal bila guru sendiri kurang greget dalam meningkatkan kualitas dia sebagai seorang guru.

B. Pembahasan

Kepribadian guru mempunyai kelebihan sendiri bila diterapkan dalam kelas karena ia akan memberikan kecenderungan dan kesenangan yang berbeda kepada murid. Namun ada juga yang mengatakan bahwa kepribadian guru sulit ditemukan kadarnya dan tidak mudah untuk dicari batasannya serta sulit juga untuk didefinisikan secara jamik dan manik. Kepribadian juga diibaratkan sebagai magnit, listrik dan radio yang tidak bisa diketahui kecuali setelah tahu bekasnya atau pengaruhnya.

Kepribadian ialah kumpulan sifat-sifat yang aqliah, jismiah, khalqiyah dan iradiah yang biasa membedakan seseorang dengan orang lain (Slamet Yusuf:37).

Dikatakan guru yang mahir adalah guru yang mampu untuk menundukkan hati mereka dan mempengaruhi mereka dengan baik sehingga ia dapat memerintah mereka dan berbicara dengan mereka. Maka dengan kepribadian itu memungkinkan untuk mengarahkan mereka pada jalan yang lurus.

Umar bin Utbah (dalam Slamet Yusuf:39), berkata pada guru dari anaknya sebagai berikut: “Hendaklah perbaikan pertama-pertama yang engkau lakukan terhadap anak saya dilakukan dengan perbaikan dirimu maka mereka akan tertuju padamu, yang mereka anggap naik adalah apa yang engkau tinggalkan. Menurut Mr. Norman Mc. Munn (Slamet Yusuf:41), kepribadian itu didapatkan dari latihan yakni dari kebiasaan dan pendidikan yang sungguh-sungguh. Tokoh pendidikan dari Inggris, Sir T. percy Nunn mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah mendidik kepribadian (Andreas Hafera, 2000).

Kepribadian itu bisa membangkitkan semangat, tekun dalam menjalankan tugas, senang memberi manfaat kepada murid menghormati peraturan sekolah sehingga membuat murid bersifat lemah lembut memberanikan mereka, mendorong pada cinta pekerjaan, memajukan berfikir secara bebas tetapi terbatas yang bisa membantu membentuk pribadi menguatkan kepribadian menguatkan kehendak membiasakan percaya pada diri sendiri.

Suksesnya seorang guru tergantung dari kepribadian, luasnya ilmu tentang materi pelajaran serta banyaknya pengalaman. Tugas seorang guru itu sangat berat, tidak mampu dilaksanakan kecuali apabila kuat kepribadiannya, cinta dengan tugas, ikhlas dalam mengerjakan, memelihara waktu murid, cinta kebenaran, adil dalam pergaulan. Ada yang mengatakan bahwa masa depan anak-anak di tangan guru dan di tangan gurulah terbentuknya umat.

Ditulis Athiyah Al-Abrosy (dalam Slamet Yusuf:42) bahwasannya sifat-sifat yang seyogyanya dimiliki seorang guru:

Guru harus menjadi bapak sebelum ia menjadi pengajar.

  1. Hubungan guru dengan murid harus baik.
  2. Guru harus selalu memperhatikan murid serta pelajaran mereka.
  3. Guru harus peka terhadap lingkungan sekitar murid.
  4. Guru wajib menjadi contoh/teladan di dalam keadilan dan keindahan serta kemuliaan.
  5. Guru wajib ikhlas di dalam pekerjaannya.
  6. Guru wajib menghubungkan masalah yang berhubungan dengan kehidupan.
  7. Guru harus selalu membaca dan mengadakan penyelidikan.
  8. Guru harus mampu mengajar bagus penyiapannya dan bijaksana dalam menjalankan tugasnya.
  9. Guru harus sarat dengan ide sekolah yang modern.
  10. Guru harus punya niat yang tetap.
  11. Guru harus sehat jasmaninya.
  12. Guru harus punya pribadi yang mantap.
  1. Guru ditempatkan pada tempat yang mulia sesuai dengan hadits Nabi.

Pada suatu hari, Rasulullah keluar rumah kemudian beliau melihat 2 majelis. Majelis yang satu terdiri dari orang yang berdoa kepada Allah dan mengharap kepadanya. Majelis yang kedua terdiri dari orang yang mengajarkan agama kepada manusia. Beliau bersabda adapun yang itu (yang pertama) mereka memohon kepada Allah jika Dia berkenan mereka akan diberi dan Dia juga berkenan untuk tidak memberi. Dan yang itu (kedua) mereka mengajari manusia, dan bahwasannya aku diutus hanya untuk mengajar. Kemudian beliau maju dan ikut duduk pada kelompok yang kedua. Dengan demikian Nabi yang mulia telah membuat sebaik-baik contoh buat kita agar menjadi pengajar dan pendorong dalam mengajar dan mengakui keutamaannya.

Demikian juga yang dikatakan Martin Luther: “jika aku diberi waktu untuk meninggalkan tugas memberi nasihat dan memberi petunjuk pasti aku akan memilih profesi sebagai pengajar.

Ucapan Bismark: “sungguh kami telah dipengaruhi oleh guru.” Senada dengan itu Iramus dalam ucapannya: “berilah aku kantor untuk guru dan aku berjanji dengan hati seorang berilmu.” Sedangkan Syauki Bik: “berdiri dan hormatilah guru dan berilah ia penghormatan.”Hampir-hampir saja seorang guru itu merupakan utusan.

“Hai Ben Sherira, curahkanlah segenap   tenagamu untuk mengajar anak-anakmu sewaktu masih kecil dan berikanlah hadiah kepada guru atas jasanya karena apa yang kamu beriakan adalah diberikan untuk anak-anakmu,” ungkap Ustadz Al Alim Al Muhiqq Ahmad Amin,

Mengajar adalah pekeejaan yang memayahkan, tidak mendatangkan harta dan tidak memperoleh pangkat. Mengajar itu hanya pantas dan bagus bagi orang yang Qona’ah terhadap masalah dunia dengan hidup sederhana dan dalam pembagian rizki yang sangat sempit. Guru yang fasid adalah guru yang menjadikan harta dan pangkat sebagai tujuan utama dan mengharapkan keduniaan. Mengajar adalah pekerjaan jiwa. Guru itu menciptakan dirinya dan amalnya ke langit, keluarganyalah yang menariknya ke bumi dengan kekerasan.

Apakah dia rela berkorban seperti berkorbannya tentara? Apakah dia siap menerima kenyataan untuk betapa seperti pendeta? Apakah dia siap berhibur dengan harta ma’nawi untuk meninggalkan yang materi dan membentuk dirinya sebagai orang berilmuu yang qona’ah serta menempatkan kelezatan-kelezatan akal dan kelezatan rohani pada kelezatan badan?”

Seorang penulis Inggris (dalam Slamet Yusuf:32) mengatakan: “kurikulum, peraturan sekolah, bangunan-bangunan yang besar dan megah dalam pendidikan dan pengajaran tidaklah lebih penting dari guru, karena guru mempunyai pengaruh besar di hadapan siswa dari ilmunya, etikanya, perbuatannya dan keterampilannya.

Fesyar pernah menyerukan tahun 1017 (dalam Slamet Yusuf: 35) bahwa guru seharusnya sudah tidak merasa kesulitan lagi dalam masalah keuangan atau kebutuhan hidupnya karena tugas pokok mereka adalah mengelola pendidikan, bagi guru yang sudah kawin hendaknya mempunyai kondisi sosial ekonomi yang sudah mapan sehingga mampu mendidik keluarganya dengan baik. Seorang guru yang susah, begitu juga seorang guru yang miskin akan mendapat kesan yang kurang baik di tengah-tengah masyarakat.

Tugas guru dapat disimpulkan mempunyai 3 tugas pokok, yaitu: (1) tugas dalam bidang profesi yang meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Tugas guru dalam hal ini dituntut untuk selalu mengembangkan profesionalitas diri sesuai dengan perkembangan IPTEK, (2) tugas dalam bidang kemanusiaan, memposisikan dirinya sebagai orang tua kedua (Usman: 2002: 7), (3) tugas dalam bidang kemasyarakatan dalam hal ini pembelajaran seperti dikutip Usman dari Adfams dan Decey dalam “Basic Principles of Student” meliputi: (a) guru sebagai demonstrator, (b) sebagai pengelola kelas, (c) sebagai mediator dan fasilitator, (d) sebagai evaluator. Sedangkan menurut Djamarah (2000: 44) meliputi: (a) sebagai inspirator, (b) sebagai informatory, (c) sebagai organisator, (d) sebagai motivator, (e) sebagai inisiator, (f) sebagai pembimbing, (g) sebagai uswah (teladan atau model), (h) sebagai penasihat.

  1. Kompetensi: kepribadian

Kompetensi secara bahasa diartikan kemampuan atau kecakapan. Hal ini diilhami dari KKBI dimana kompetensi diartikan sebagai wewenang atau kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan suatu hal. Sedangkan menurut Partanto (1994), dalam Kamus Ilmiah Populer, kompetensi diartikan sebagai kecakapan, wewenang, kekuasaan dan kemampuan. Sedangkan secara terminologis, sebagai berikut:

Menurut Broke dan Stone, gambaran hakikat kualitatif dari perilaku guru yang  tampak sangat berarti.

  1. Mc Leod dalam Usman (2001), keadaan berwenang atau memenuhi syarat menuntut ketentuan hokum.
  2. Jhonson, perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang diprasyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan.
  3. Pengertia lain diartikan sebagai kemampuan dasar yang mengaflikasikan apa yang seharusnya dapat dilaksanakan oleh seorang guru dalam melaksanakan tugasnya.
  4. Menunjuk pada kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan.
  5. Hitami dan Sahrodi (2004), pemilikan nilai, silap dan keterampilan yang diperlukan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
  6. McAshan dalam Mulyasa (2003: 38) sebagai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya.
  7. Finch dan Crunkilton (1979: 222) merupakan penguasaan terhadap suatu tugas, keterampilan sikap dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan.
  8. Kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban secara bertanggung jawab dan layak.

Aspek kompetensi menurut Gordon dalm Mulyasa (2003: 39):

  1. Pengetahuan
  2. Pemahaman
  3. Kemampuan
  4. Nilai
  5. Sikap
  6. Minat

Jenis kompetensi, meliputi diantaranya: (a) kompetensi personal, (b) kompetensi professional, (c) kompetensi meiputi (a) terampil berkomunikasi dengan orang lain (b) bersikap simpatik terhadap siswa dan masyarakat (c) dapat bekerjasama dengan orang lain, (d) pandai bergaul.

Kompetensi personal, yaitu sikap pribadi guru yang dijiwai oleh agama dan filasafat pancasila yang akan mengagungkan moral dan budaya. Dan ini mencakup kemampuan dan integritas pribadi, peka terhadap perubahan dan pembaharuan, berfikir alternatif, adil, jujur, obyektif, disiplin, ulet, tekun, simpatik, menarik, luwes, terbuka, kreatif dan berwibawa. Kompetensi personal bisa diidentikkan dengan kepribadian dan kepribadian yang baik akan berpengaruh terhadap hidup dan kebiasaan belajar para siswa. Untuk memiliki kepribadian yang baik ini guru dituntut memiliki kematangan dan kedewasaan pribadi serta jasmani dan rohani, dan cirinya adalah sebagai berikut: (1) memiliki pedoman hidup, (2) mampu melihat segala sesuatu secara obyektif, (3) mampu bertanggung jawab.

Ciri guru yang profesional dikutip dalam Jurnal Educational Leadership (1998): (1) mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya, (2) menguasai secara mendalam bahan pelajaran yang diajarkannya serta metode pelajaran yang relevan, (3) bertanggung jawab dalam memantau hasil belajar melalui berbagai cara evaluasi, (14) mampu merpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya, (5) guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya.

Yang mempengaruhi rendahnya profesionalisme guru, menurut Akadum (1999) (1) masih banyak guru yang tidak menekuni profesinya secara total, (2) rentan dan rendahnya kepatuhan guru terhadap norma etika profesi keguruan, (3) pengakuan terhadap ilmu pendidikan dan keguruan masih setengah, dll.

Jihad oleh Muhaimin (2003: 230-231) diartikan sebagai makna kesediaan bekerja keras dengan mencurahkan segala kemampuan, baik fisik/materi maupun totalitas dirinya menuju jalan Allah, mempunyai sikap ketelitian dan kecermatan, serta terbuka terhadap kritik dari luar, mempunyai kebanggaan terhadap pekerjaan yang bermutu (bukan asal kerja) dan mempunyai wawasan jangka panjang (harapan masa depan).

Mengenai kesejahteraan guru menurut Komball Wiles (dalam Bafadal, 2003: 101-102), ada 8 hal yang diinginkan guru melalui kerjanya: (1) adanya rasa aman dan hidup layak, (2) kondisi kerja yang menyenangkan, (3) rasa diikutsertakan, (4) perlakuan yang wajar dan jujur, (5) rasa mampu, (6) pengakuan dan penghargaan atas sumbangan, (7) ikut ambil bagian dalam pembuatan kebijakan sekolah, (8) kesempatan mengembangkan self respect.

Pembahasan diatas semakin mempertajam adanya keterkaitan yang kuat antara kompetensi dan kepribadian guru. Keduanya secara bersamaan mencoba untuk merealisasikan profil guru ideal dari berbagai sudut pandang baik personal, sosial dan akademik.

  1. Kepribadian guru dalam perspektif historis.

 

  1. Profil guru di masa dulu

Secara singkat  telah dijelaskan di atas bahwa profesi guru di masa dulu merupakan profesi idaman, dimana semua orang ingin menjadi guru, kalau toh tidak berhasil sekedar bermantukan seorang guru saja pun sudah bangga.

Kebanggaan yang mendarah daging di masa lalu ini merupakan sesuatu yang menarik untuk dikaji, ada apa dengan guru sehingga menjadi profesi yang sangat diminati? Padahal kalau dilihat secara kasat mata, dari kesejahteraan sangat jauh dari kurang, namun demikian mereka selalu mendapatkan tempat tertinggi dalam tatanan masyarakat pada waktu itu. Guru benar-benar diposisikan dan dihargai.

Bila bukan dari aspek kesejahteraan, pastilah ada aspek yang sangat fenomenal dalam profesi guru iru sendiri. Sosok Ki Hajar Dewantara merupakan sosok yang mewakili profil guru di masa lalu. Artinya, bila ingin mengetahui secara detail tentang profil guru di masa lalu, maka amatilah kepribadian beliau. Sosok guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa benar-benar dapat diamati, tak ada batasan waktu, tempat dalam mengajarkan ilmu dan yang paling penting mereka betul-betul ideal model. Apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan sejalan yang secara tidak langsung menimbulkan kewibawaan sejati dalam diri beliau.

Kepribadian semacam inilah yang kemudian menjadikan murid-murid beliau termotivasi untuk menjadi guru sekaliber Ki Hajar Dewantara. Ini sesuai dengan statement yang mengatakan bahwa pribadi guru itu besar sekali pengaruhnya terhadap keberhasilan darma baktinya dan guna berpengaruh pada muridnya.

Namun demikian harus juga dipahami juga bahwa bukan hanya kepribadian saja yang menentukan keberhasilan tugasnya sebagai guru tetapi juga harus dilengkapi dengan ilmu khusus, kebudayaan tertentu dan persiapan pelayanan yang teratur.

Artinya bisa dikatakan profil guru di masa lalu adalah profil guru ideal, dimana mereka mumpuni dan matang dalam aspek kepribadian, keilmuan dan perilaku yang semua itu kemudian dilengkapi dengan semangat pengabdian atau menurut Muhaimin identik dengan semangat jihad. Jihat boleh diartikan sebagai makna bekerja keras (dengan mencurahkan segala kemampuan, baik fisik/materi maupun totalitas dirinya) menuju jalan Allah, mempunyai sikap ketelitian dan kecermatan, serta terbuka kritik dari luar, mempunyai kebanggaan terhadap pekerjaan yang bermutu (bukan asal kerja) dan mempunyai wawasan jangka panjang (harapan masa depan).

Secara lebih dalam, profil guru masa lalu bisa diamati dalam sajak berikut ini:

Siapa guru bangsa ini?

Anda dan saya!

Yang berarti kita. Semua tak terkecuali

Termasuk pak Lurah adalah guru bangsa ini ketika

Dengan senyum membuatkan KTP bagi si Bejo

Tanpa rasa pamrih. Juga pak Darmo yang sopir bus

Adalah guru bangsa ini ketika mempersilahkan

Kendaraan lain yang mau menyalip untuk mendahului.

Demikian pak Budi yang pengusaha adalah guru bangsa ini

Ketika membuang limbah tanpa merusak lingkungan.

Tak terkecuali pak Edi, pejabat yang senantiasa

Lebih dulu memberi salam selamat pagi kepada

Bawahannya, dia adalah guru bangsa ini.

Atau si Udin, adalah guru bangsa ini ketika membuat sumur

Tidak pernah menipu soal kedalaman sumurnya.

Mereka semua adalah guru bagi bangsanya.

Termasuk anda dan saya.

Kalau bukan kita siapa lagi yang mau membimbing

Negeri ini agar lebih baik dan lebih maju.

Perlukah kita mendatangkan guru-guru dari negara lain?

Relakah kalau kita digurui oleh bangsa-bangsa lain?

Atau maukah kita terus-terusan menjadi murid bagi bangsa ini?

Kita semua wajib menjadi guru bagi kemajuan bangsa ini. (dikutip dari Tilaar, 1999:333)

b. Profil guru di masa kini dan akan datang.

Kemerosotan profesi guru baik di dalam minat pemuda kita untuk memasukinya maupun oleh masyrakat yang kurang memberi perhatian atau penghargaan terhadap profesi guru menunjukkan adanya keharusan untuk mencari paradigma baru supaya profesi guru memenuhi tuntutan masyarakat baru dalam milenium ketiga. Perlu disadar bahwa fungsi dan peranan guru bisa berubah tapi profesi akan  tetap selalu dibutuhkan.

Sebelum menganaslisa tentang profil atau kepribadian guru masa kini dan akan datang maka perlu diketahui karakteristik masyarakat yang dihadapi yang notabene merupakan konsumen atau pengguna jasa pendidikan. Menurut Tilaar (1999: 281), ada 3 karaktristik masyarakat masa kini dan akan datang (= masyarakat milenium 21), yaitu:

1)       Masyarakat teknologi, dimana kemajuan teknologi sangat berkembang pesat sehingga membuat dunia menjadi satu, sekat-sekat yang membatasi bangsa-bangsa, pribadi-pribadi menjadi hilang sehingga bentuk-bentuk komunikasi umat manusia akan berubah.

2)       Masyarakat terbuka, pada jenis ini dibutuhkan manusia yang mampu mengembangkan kemampuan dan yang mampu berkreasi untuk peningkatan mutu kehidupannya serta sekaligus mutu kehidupan bangsa dan masyarakatnya.

3)       Masyarakat madani, yaitu masyarakat yang saling menghargai satu dengan yang lain, yang mengakui akan hak-hak manusia yang menghormati akan prestasi dari para anggotanya sesuai dengan kemampuan yang dapat ditunjukkannya bagi masyarakat.

c. Deskripsi profil guru masa kini.

Untuk memahami posisi guru masa kini, dapat dipahami dari sajak-sajak berikut:

Sejuta batu nisan

Guru tua yang terlupakan sejarah

Terbaca torehan darah kering

Disini berbaring seorang guru

Semampu membaca buku usang

Sambil belajar menahan lapar (Kompas, 26 Desember 2006).

Dari puisi diatas dapat dipahami ada 3 pesan global yang disampaikan Winarno, yaitu:

1)       Adanya kecenderungan profesi guru terlupakan. Senada dengan ini, Tilaar juga mengatakan bahwa profesi guru diambang kematian karena bukan saja tidak diminati putra bangsa yang terbaik juga masyarakat sendiri tidak memberikan penghargaan yang wajar terhadap profesi guru. (Tilaar: 1999: 285). Padahal untuk mengatasi itu semua diperlukan suatu penghargaan masyarakat, karena suatu profesi akan hidup dan berkembang apabila tersebut dihargai oleh masyarakat. Dan ini ditunjukkan dengan adanya keinginan masyarakat untuk memilihprofesi guru sebagai unggulan.(Tilaar: 1999: 291)

2)       Kemampuan finansial yang amat memprihatinkan. Tilaar dalam hal ini mengatakan bahwa imbalan ekonomis dalam sektor modern lebih besar daripada profesi yang tua seperti guru dan petani.

3)       Pentingnya mengembalikan guru sebagai profesi suci, mengingat banyak guru yang  terjangkiti perilaku instan dan praktis.

Setelah kita melihat profesi guru Indonesia dewasa ini tentunya tidak dapat kita harapkan masyarakat kita dapat dibawa untuk memasuki masyarakat abad 21 yang kompetitif. Masyarakat kompetitif yang dikuasai oleh ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi khususnya teknologi komunikasi. Untuk itu profil guru yang dibutuhkan adalah:

1)        Memiliki kepribadian yang matang dan berkembang (mature and developing personality)

2)        Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kuat, hal ini diilhami dari surat Az-Zumar ayat 9: ”Katakanlah apakah sama orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui? Bahwasannya yang dapat mengambil pelajaran itu adalah orang yang mempunyai akal.” Dan juga surat Ash-Shaf ayat 2-3: “Hai orang-orang yang beriman mengapa kau mengatakan sesuatu yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian Allah karena kau mengatakan sesuatu yang tidak kamu perbuat.”

3)        Keterampilan membangkitkan minat peserta didik.

4)        Pengembangan profesi yang berkesinambungan.

C. Analisis

Uraian diatas menjelaskan secara kongkrit bagaimana meningkatkan popularitas profesi guru di masa kini dan akan datang. Bila diklasifikasikan, maka penjelasan diatas hanya berkutat atau ditekankan pada aspek, (1) performansi (penampilan luar) seorang guru, (2) akademik, dimana guru dituntut untuk selalu belajar dfan meneliti, (3) kesejahteraan guru. Ketiga hal diatas tidak balance sehingga yang terjadi protes akan rendahnya gaji yang diterima seorang guru sehingga harus ngompreng sana ngompreng sini.

Dari klasifikasi diatas, maka dapat langsung dikatakan bagaimana sebenarnya profil guru kita ini. Namun demikian, kesalahan tidak terletak pada guru sebagai person, tetapi semua itu telah termasukkan dalam sistem yang sangat kuat sehingga diperlukan kontinuitas untuk memperbaikinya.

Dari pembahasan tentang profesi guru diatas, penekanan yang diperjuangkan hanyalah pada masalah materiil sehingga sangatlah wajar bila kemudian salah satu pengajar UIN Jakarta dalam Swara Cendekia mengatakan bahwa sistem pendidikan kita sudah termatrialisasikan, artinya semuanya harus ada pelicin. Dan ini berimbas pada guru, dimana kita jumpai sangat minimnya jiwa pengabdian yang ada dalam diri guru, apalagi yang berada di perkotaan.

Selain minimnya semangat pengabdian=jihad, minim pula sifat qona’ah seorang guru sehingga terjadilah malapraktik pendidikan, baik dengan menjual nilai, nggompreng buku atau sampai jualan narrkoba. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa guru kita miskin kreativitas atau kurang lincah dalam menangkap peluang yang ada.

Sehingga kita tidak menyalahkan jika ada statement bahwa pekerjaan guru itu berat untuk itu dibutuhkan komitment tinggi untuk melakoninya. Artinya jika profesi guru sudah menjadi pilihan kita, maka pastilah sudah disadari sejak awal bagaimana plus-minusnya profesi guru. Jika ini disadari secara mendalam, maka tidak akan ada protes sampai turun ke jalan hanya untuk sekedar untuk memperjuangkan hak, padahal bila ditanyakan ulang sudahkah seorang guru melakukan kewajiban, karena notabene hak bisa diambil bila sudah melakukan kewajiban, baik kewajiban mengajar atau mendidik. Ini juga pernah dilakukan Socrates, dimana ia menolak gaji (Hasan: 1998: 187).

Menyikapi hal ini, hendaklah kita melakukan apa yang dikatakan Maslow sebelum hidupnya berakhir dengan mengatakan, ini senada dengan piramid Maslow yang telah dibalik, karena diakhir hidupnya Maslow mengatakan Every one should self actualize as a first priority then for themselves people will be valued by others, loved by others, feel secure and survive. Bila dianalogikan, maka setidaknya guru harus melakukan sesuatu terlebih dahulu untuk dapat dihargai (mis, baik itu dengan mengajar dengan maksimal). Bila ini sudah dilakukan maka secara otomatis, masyarakat ataupun pemerintah tanpa diminta pun akan menaikkan kesejahteraan guru.

Masalah pengertian kepribadian guru dari waktu ke waktu dapat diperjelas dari tabel berikut ini:

NO

DULU

KINI, AKAN DATANG

1. Tanpa pamrih No pamrih no service
2. Komitmen tinggi Komitmen angin-anginan
3. Istiqomah Istiqomahnya tergantung
4. Qona’ah Kurang Qona’ah

<br><br>

Keterangan:

 

Bila mau dikomparasikan, maka ke-3 hal diatas adalah profil guru di masa dulu dengan guru di masa kini dan akan datang. Dan bila dipahami lebih lanjut, perbedaan terletak pada ruh pendidikan itu sendiri. Artinya pendidikan yang notabene lapangan pengabdian, seorang guru menggunakan paradigma yang berbeda. Bila dahulu paradigma yang digunakan adalah amal jariyah ansich. ini semua termotivasi dari hadits nabi tentang 3 amalan kekal yang salah satunya adalah amal jariyah, serta hikmah arab:

Sedangkan paradigma guru masa kini dan masa akan datang (merupakan prediksi, artinya bisa terjadi dan tidak), berpatokan pada mencari rejeki sebanyak-banyaknya. Karena rejeki yang dicari maka bila mendapatkan rejeki kecil akan kebingungan dan mencari obyekan lain. Protes gaji dan demo-demo lainmerupakan akibat logis dari paradigma yang digunakan tersebut.

Selain itu bila seseorang telah memilih menjadi guru maka ia akan terjun total dalam bidang yang telah dipilihya sehingga perilaku, ucapan dan tindakan selalu disesuaikan dengan profesi yang telah dipilihnya. Sedangkan saat ini statemen ibarat guru kencing berdiri, maka murud kencing berlari merupakan dampak kurang diaplikasikannya ruh guru oleh guru tersebut. Misalnya, betapa banyak guru melarang rokok muridnya namun ia sendiri merokok dan masih banyak lagi yang lainnya.

Untuk masa kini dan masa akan datang dimana keadaan dunia dan zamat sangat global, terjangkitnya paradigma materialis dan hedinisme maka yang paling membedakan antara guru dulu dengan sekarang dan mungkin masa yang akan datang adalah sifat qona’ah yang dimiliki oleh seorang guru. Ada fenomena guru dulu tidak mau menerima gaji (Arabiah Baina Yadaik, h,103), dan keadaan ini tidak merata. Memang kita masih menjumpai guru yang bersifat qona’ah plus jiwa pengabdian yang tinggi namun itu hanya bisa dijumpai di daerah-daerah pedalaman dan hampir bisa dipastikan mereka menyadari komitmen sebagai seorang guru. Sedangkan di daerah kebanyakan, adalah sebaliknya.

D. Tawaran solusi

 

Melihat fenomena kepribadian guruyang kian hari kian bergeser dan melemah, maka diperlukan usaha untuk dapat memperbaiki keadaan ini yang nantinya secara tidak langsung akan mendongkrak profesi guru itu sendiri. Diantara yang dapat kita tawarkan di sini adalah:

1. mempertebal sifat qona’ah

Guru di masa kini dan masa akan datang haruslah memahami betul agar dapat bersikap qona’ah, bersikap menerima tapi bukan pasif keadaan yang bangsa yang sulit ini bukanlah harus ditangisi, tapi dijadikan tantangan untuk dapat mengeksplorasi kreativitas guru. Hal ini sudah terjadi di sektor kehidupan yang lainnya seperti ekonomi. Naiknya harga BBM malah menjadikan seseorang lebih kreatif untuk membuat kompor yang berbahan bakar rendah ekonomis. Guru sendiri juga bisa bila mau, misalnya bagaimana seorang guru bertindak seminim mungkin namun tetap tujuan pembelajaran tercapai. Artinya mengajar jangan hanya dimaknai sebagai pelajaran yang melelahkan, namun enjoy. Partisipasi guru dalam kegiatan penelitian (dalam hal ini penelitian tindakan kelas) seharusnya dijadikan salah satu cara untuk dapar meningkatkan ekonomi guru. Itupun kalau jeli melihat peluang seperti yang dilakukan oleh guru Bahasa Indonesia MTsN Malang I.

2. mempertebal komitmen

Ketika seseorang memilih profesi guru, maka saat itu juga harus disadari bahwa guru adalah pekerjaan mengabdi bukan lahan bisnis. Bila ini disadari secara total maka akan tercipta sosok guru yang sangat qona’ah berkomitmen tinggi. Untuk merealisasikan hal ini maka diperlukan seleksi yang ketat dalam penerimaan mahasiswa keguruan dan penyeleksian di saat akan mengabdikan ilmunya dalam lapangan pendidikan.

Komentar:

Ada beberapa hal yang sebaiknya kita bahas lebih lanjut, diantaranya adalah:

  1. Profesi guru yang sudah tidak lagi mendapat tempat di masyarakat, yang salah satunya disebabkan rendahnya kemampuan ekonomi guru di Indonesia pada masa ini dan rendahnya kompetensi guru saat ini.
  2. Kompetensi guru yang dimaksud adalah kepribadian guru.
  3. Perbandingan guru di masa lalu dengan guru di masa ini dan akan datang. Yang penulis menyatakan bahwa guru di masa dulu lebih baik dari pada guru di masa ini dan akan datang.
  4. Tawaran solusi bagi guru dengan memperdalam sifat qona’ah dan mempertebal komitmen.

Hal-hal diatas menimbulkan beberapa pertanyaan, diantaranya:

  1. Siapakah sebenarnya guru itu?
  2. Benarkah profesi guru sudah tidak mendapat tempat di masyarakat kita saat ini?
  3. Kalau benar, apakah penyebabnya?
  4. Sudah cukupkah solusi-solusi diatas?

Di dalam tulisan singkat ini kami akan mencoba membahas lebih dalam mengenai hal-hal diatas.

a. Siapakah sebenarnya guru itu?

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, guru diartikan sebagai orang yg pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Dalam hal ini berarti guru itu adalah orang yang melakukan tindakan mengajar sebagai pekerjaannya, dengan kata lain dia mengajar dan mendapat imbalan dari kegiatan mengajar tersebut. Dengan demikian seorang pengajar yang tidak mendapat imbalan dari kegiatan mengajarnya tidak dinamakan guru. Sehingga ustadz-ustadz di pondok-pondok pesantren, kiai-kiai di kampung-kampung yang mengajar anak-anak kecil membaca Al-Quran tanpa imbalan bukanlah dinamakan seorang guru atau seorang artis yang mengajarkan gaya hidup kepada masyarakat dengan metode yang berbeda, itu juga bukanlah guru yang dimaksud.

Tetapi hal ini berbeda dengan pernyataan Ali R.A yang termasuk sahabat Nabi SAW yang menyatakan bahwa orang yang mengajari kamu sesuatu walaupun hanya satu huruf hijaiyah (huruf di dalam bahasa arab) itu adalah guru kamu. Sehingga di dalam pengertian ini, maka ustadz-ustadz, kiai-kiai adalah seorang guru.

Dengan demikian yang dimaksud guru di dalam tulisan diatas adalah tepatnya guru formal.

b. Benarkah profesi guru sudah tidak mendapat tempat dalam masyarakat dan apakah penyebabnya?

Kalau kita mengacu pada pengertian guru adalah profesi, maka hal ini memang benar. Bahwa profesi guru sudah bukan lagi profesi yang sakral. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana masyarakat menempatkan seorang guru di dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dikarenakan selain faktor kepribadian guru itu sendiri seperti yang telah diuraikan di dalam tulisan diatas, juga disebabkan oleh posisi sekolah sebagai institusi guru formal di tengah-tengah masyarakat.

Posisi sekolah di tengah-tengah masyarakat saat ini sangatlah berbeda dengan posisi lembaga pendidikan lain di masa Hindu-Buddha dan masa pendidikan Islam. Dan ini sangat dipengaruhi oleh sistem yang berlaku. Dari sini ada baiknya kita ketahui dulu bagaimana sistem pendidikan pada saat itu. Uraian tentang sejarah di bawah ini kami kutip dari artikel berjudul ” Sedikit Uraian Sejarah Pendidikan Indonesia” dalam situs: http://tinulad.wordpress.com.

Pada masa Hindu-Buddha

Menurut Agus Aris Munandar dalam tesisnya yang berjudul Kegiatan Keagamaan di Pawitra Gunung Suci di Jawa Timur Abad 14—15(1990). Sistem pendidikan Hindu-Buddha dikenal dengan istilah karsyan. Karsyan adalah tempat yang diperuntukan bagi petapa dan untuk orang-orang yang mengundurkan diri dari keramaian dunia dengan tujuan mendekatkan diri dengan dewa tertinggi. Karsyan dibagi menjadi dua bentuk yaitu patapan dan mandala.

Patapan memiliki arti tempat bertapa, tempat dimana seseorang mengasingkan diri untuk sementara waktu hingga ia berhasil dalam menemukan petunjuk atau sesuatu yang ia cita-citakan. Ciri khasnya adalah tidak diperlukannya sebuah bangunan, seperti rumah atau pondokan. Bentuk patapan dapat sederhana, seperti gua atau ceruk, batu-batu besar, ataupun pada bangunan yang bersifat artificial. Hal ini dikarenakan jumlah Resi/Rsi yang bertapa lebih sedikit atau terbatas. Tapa berarti menahan diri dari segala bentuk hawa nafsu, orang yang bertapa biasanya mendapat bimbingan khusus dari sang guru, dengan demikian bentuk patapan biasanya hanya cukup digunakan oleh seorang saja.

Istilah kedua adalah mandala, atau disebut juga kedewaguruan. Berbeda dengan patapan, mandala merupakan tempat suci yang menjadi pusat segala kegiatan keagamaan, sebuah kawasan atau kompleks yang diperuntukan untuk para wiku/pendeta, murid, dan mungkin juga pengikutnya. Mereka hidup berkelompok dan membaktikan seluruh hidupnya untuk kepentingan agama dan nagara. Mandala tersebut dipimpin oleh dewaguru.

Pada masa Islam

Sistem pendidikan yang ada pada masa Hindu-Buddha kemudian berlanjut pada masa Islam. Bisa dikatakan sistem pendidikan pada masa Islam merupakan bentuk akulturasi antara sistem pendidikan patapan Hindu-Buddha dengan sistem pendidikan Islam yang telah mengenal istilah uzlah (menyendiri). Akulturasi tersebut tampak pada sistem pendidikan yang mengikuti kaum agamawan Hindu-Buddha, saat guru dan murid berada dalam satu lingkungan permukiman (Schrieke, 1957: 237; Pigeaud, 1962, IV: 484—5; Munandar 1990: 310—311). Pada masa Islam sistem pendidikan itu disebut dengan pesantren atau disebut juga pondok pesantren. Berasal dari kata funduq (funduq=Arab atau pandokheyon=Yunani yang berarti tempat menginap).

Bentuk lainnya adalah, tentang pemilihan lokasi pesantren yang jauh dari keramaian dunia, keberadaannya jauh dari permukiman penduduk, jauh dari ibu kota kerajaan maupun kota-kota besar. Beberapa pesantren dibangun di atas bukit atau lereng gunung Muria, Jawa Tengah. Pesantern Giri yang terletak di atas sebuah bukit yang bernama Giri, dekat Gersik Jawa Timur (Tjandrasasmita, 1984—187). Pemilihan lokasi tersebut telah mencontoh ”gunung keramat” sebagai tempat didirikannya karsyan dan mandala yang telah ada pada masa sebelumnya (De Graaf & Pigeaud, 1985: 187).

Seperti halnya mandala, pada masa Islam istilah tersebut lebih dikenal dengan sebutan ”depok”, istilah tersebut menjadi nama sebuah kawasan yang khas di kota-kota Islam, seperti Yogyakarta, Cirebon dan Banten. Istilah depok itu sendiri berasal dari kata padepokan yang berasal dari kata patapan yang merujuk pada arti yang sama, yaitu “tempat pendidikan. Dengan demikian padepokan atau pesantren adalah sebuah sistem pendidikan yang merupakan kelanjutan sistem pendidikan sebelumnya.

Dari sini kita ketahui bahwa kedua sistem lama tersebut sama-sama memposisikan lembaga pendidikan di tempat yang tinggi. Sehingga masyarakatpun memandang lembaga pendidikan pada masa itu dengan pandangan yang berbeda. Dan sistem tersebut bisa dikatakan berhasil, bisa kita lihat sekarang bahwa Islam adalah agama terbesar di Indonesia yang hal itu merupakan hasil dari sistem yang diterapkan wali Songo di dalam dakwahnya.

Hal ini berbeda dengan yang terjadi sekarang. Sebagaimana kita ketahui bahwa kita mengadopsi sistem pendidikan dari barat yang dibawa oleh Belanda. Dan pada perkembangannya sistem tersebut telah berubah sedemikian rupa seperti saat ini. Perbedaan yang paling mencolok salah satunya adalah posisi sekolah di tengah masyarakat. Dimana sekarang ada yang dinamakan pendidikan formal yaitu sekolah, yang mana sekolah ini bukan lagi tempat sakral tempat dididiknya seseorang, tetapi sekolah lebih berarti tempat disampaikannya ilmu dari guru ke murid. sehingga sekolah sekarang terkesan hanya sekedar “formalitas” belaka.

Memang sekarangpun masih ada pondok pesantren yang merupakan warisan dari sistem lama. Tetapi tanpa ada legalisasi (mis: ijazah pondok pesantren setara dengan ijazah SMU) dan dukungan sepenuhnya dari pemerintah, maka semakin lama lembaga ini akan terkikis atau bahkan punah dari bumi Indonesia.

Dampak langsung terhadap profesi guru adalah pada pertanyaan siapakah guru itu? Kalau di masa Hindu-Buddha dan Islam guru adalah orang suci dengan segala kompetensi yang dimiliki, maka sekarang guru itu adalah orang yang bekerja secara formal dan mendapatkan gaji dari pekerjaan tersebut. Sehingga orientasi keduanya sudah jauh berbeda.

Kalau tulisan oleh Isti’anah Abubakar diatas menyatakan bahwa profesi guru tidak lagi digemari karena faktor ekonomi, maka hal itu benar sekali dan itu adalah konskuensi logis dari sistem yang diberlakukan di Indonesia saat ini.

Kesimpulanya beberapa faktor yang menjadikan profesi guru tidak lagi digemari masyarakat saat ini,

  1. Rendahnya kompetensi guru di Indonesia sesuai dengan pemaparan dalam tulisan Isti’anah Abubakar.
  2. Penerapan formalisasi sistem pendidikan Indonesia.
  3. b. Solusi

Pada dasarnya kami setuju dengan solusi yang ditawarkan Isti’anah Abubakar diatas, tetapi kami ingin menambahkan sedikit yaitu  perlunya sistem yang mendukung seorang guru untuk melakukan sifat-sifat qona’ah dan tebalnya komitmen. Dan sistem tersebut untuk saat ini yang paling realistis adalah dukungan total terhadap pondok-pondok pesantren. Dukungan tersebut bisa berupa penggalian atas khazanah-khazanah sistem pendidikan di pondok pesantren terlebih lagi pondok pesantren salaf yang keberadaannya sudah seperti lembaga pendidikan asing yang tidak menjanjikan apa-apa.

Sedikit tambahan bahwa ustadz-ustadz pondok pesantren sampai saat ini masih mendapatkan posisi yang tinggi di dalam masyarakat. Lebih khusus lagi ustadz-ustadz pondok pesantren salaf.

Kontributor

Luqman Ahsanul Karom, Jurusan Bahasa Inggris, FKIP, Universitas Universitas Islam Malang.

Sumber

Jurnal “El-Harakah” Vol V, Universitas Islam Negeri Malang


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: